jump to navigation

Ir. Amien Widodo, Msi 27 Feb 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Tokoh Nusantara.
Tags: , , , , , , , ,
trackback

Mengenal Tanda Sebelum Bencana

Bagi kebanyakan orang, bencana seringkali dianggapnya sebagai azab. Tapi Ir. Amien Widodo, Msi selalu mencari hikmah di baliknya. Baginya, peristiwa bencana itu tak pernah sia-sia. Sebab apa yang telah diciptakan oleh Allah, selalu mengandung rahasia yang tersembunyikan. “Robbanaa maa kholaqta haadzaa baathilaa,” tukasnya menyitir sebuah ayat.

Gempa dan gunung berapi, kata geolog ITS ini, sama halnya dengan oksigen. Keberadaannya harus ada sebagai bagian dari keseimbangan bumi. Seperti bencana gempa bumi yang ada di negeri ini, itu merupakan peristiwa yang memang harus terjadi. Sebab Indonesia bila dilihat dari sisi geologis mirip sekali dengan Jepang. Di mana peristiwa seperti gempa bumi, gunung meletus, bahkan tsunami bisa saja terjadi. “Allah telah menunjukkannya. Kita harus mengenalinya. Tidak usah takut,” ujar pria usia 48 tahun ini menerangkan.

Sebagai seorang geolog, dirinya memandang gempa itu memiliki banyak manfaat. Salah satunya, bumi akan tersuplay energinya untuk menggerakkan magma yang ada di pusat bumi. Sehingga bumi akan bergerak terus. “Namun masyarakat awam banyak yang menentang teori ini, karena menganggap gempa bumi ini suatu azab,” kilahnya sambil menghela nafas. “Ketika saya memberikan pemahaman di Yogyakarta saat terjadi gempa, banyak orang yang menolak uraian yang saya sampaikan,” tambahnya mencontohkan.

Peristiwa tsunami Aceh, telah menggiringnya untuk berkecimpung lebih dalam ke dunia bencana. Waktu itu dirinya melihat begitu banyak korban yang berjatuhan. Dia merasa, bahwa sebenarnya hal itu bisa dicegah kalau pemahaman orang tentang bencana cukup memadai.

Untuk itulah pada tahun 2004, melalui Pusat Studi Bencana (PSB) ITS, ayah dua anak ini bersama para geolog lainnya berikhtiar mensosialisasikan masalah bencana tersebut. Dengan harapan korban dapat dikurangi. Kegiatannya banyak terfokus pada studi bencana, serta pencerahan kepada masyarakat mengenai cara yang lebih bersahabat terhadap bencana. Disamping langsung bertatap muka dengan mereka, juga melalui selebaran, buletin dan seminar-seminar tentang bencana.

Dari penelitian yang dia lakukan, sebenarnya ada masyarakat kita yang sudah sangat bersahabat dengan bencana. Pada peristiwa tsunami, di ujung Aceh terdapat sebuah pulau bernama Siemelu. Pulau ini sangat berdekatan dengan pusat gempa. Tetapi di pulau kecil itu, tak dijumpai satu pun penduduk yang menjadi korban tsunami. Semua penduduknya sudah terbiasa dengan peringatan dini, tanpa menggunakan alat. “Peringatan dini itu dikenal dengan sebutan semong. Penduduk mengucapkannya sekeras-kerasnya sambil lari sekuat-kuatnya menuju bukit,” ujarnya takjub.

Pada tahun 1900-an – yang berarti sudah dua generasi, pernah terjadi bencana serupa. Penduduk belajar dari situasi itu untuk diteruskan ke generasi selanjutnya, melalui sebuah cerita yang melegenda.  “Jadi kalau ada bencana, sebenarnya sudah ada tanda-tanda sebelumnya,” simpulnya.

Kearifan lokal pulau Siemelu sebenarnya bisa ditiru di Yogyakarta. Sebab pada tahun 1942, di Jogja juga pernah terjadi gempa yang sama. Namun pada saat itu orang yang menjadi korban cuma sedikit dan tidak terekspos. Sayangnya, banyak orang yang tak memahami hal yang demikian itu. Sehingga ketika tsunami terjadi di Banyuwangi pada tahun 1994, kembali banyak korban yang berjatuhan.

Sekjen Masyarakat Peduli Bencana Indonesia ini pernah membandingkan, antara gempa Yogyakarta dengan gempa di Jepang. Gempa Jogja yang berkekuatan 5,9 SR itu, telah menimbulkan korban jiwa sebanyak 6.000 dan kerusakan rumah sebanyak 350.000 rumah. Sedangkan gempa di Jepang yang berkekuatan 6,9 SR, hanya satu yang meninggal dan rumah yang rusak hanya 60 buah. ”Sungguh, hal itu cukup memalukan bangsa,” tukasnya kesal. “Di Sumatera hampir tiap tahun ada gempa. Mulai dari Lampung, Aceh, Medan dan sekitarnya. Jadi.. tidak ada alasan buat kita untuk tidak sadar terhadap bencana,” ujar Magister Ilmu Geologi UGM ini menambahkan.

Pengetahuan soal gempa, bagi penggemar berat sepak bola ini, telah didapatkannya sejak dirinya di bangku kuliah. Indonesia secara geografis memang rawan terjadi peristiwa geologi. Namun pengetahuan itu belum tersampaikan secara luas kepada masyarakat. “Sewaktu kecil kita tidak pernah diberi tahu, kalau ada gempa harus berbuat apa. Kita tidak dididik dan diarahkan untuk menghadapi peristiwa seperti itu,” ujar Dosen Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan ITS Surabaya ini menerangkan.

Pria kelahiran Yogyakarta 10 Oktober 1959 inilah, yang semula mengungkapkan teka-teki terjadinya lumpur Lapindo. Pada awalnya, lumpur Lapindo dipandang banyak pihak sebagai akibat dari efek peristiwa gempa di Yogyakarta. Namun dengan pengetahuan yang dimilikinya, dia menjelaskan bahwa hal itu tidak mungkin terjadi. “Gempa Yogyakarta itu berjarak 200 kilometer lebih. Blow out bisa dimungkinkan bila efek gempa Yogyakarta mencapai kekuatan 6 SR,” jelasnya.

Di penghujung tahun 2007, Amien juga disibukkan dengan pemantauan terhadap gunung Kelud. Meski akhirnya gunung Kelud tidak jadi meletus, dan terkesan hitungan dari geolog kalah dengan juru kunci gunung Kelud, Amien mengambil hikmahnya. “Mungkin kita harus lebih memperlengkapi alat yang lebih memadai,” tuturnya berkilah.

Meskipun juru kunci gunung itu kali ini benar, dirinya tetap menghimbau agar tak mempecayainya secara total. Sebab Gunung Kelud sudah meletus ribuan tahun dan secara berulang-ulang. Sementara pengetahuan juru kunci melihat fenomena alam itu sebatas tiga kali letusan; 1951, 1966 dan tahun 1990. “Lalu bagaimana dengan letusan yang terjadi pada tahun 1500, yang menghancurkan kerajaan Kediri dan Dhoho?” katanya mempertanyakan.

Bagi penempuh S3 Geologi Longsong UGM ini, dirinya akan terus menggencarkan kepada masyarakat untuk mengetahui adanya potensi longsor, banjir, gempa, atau tsunami di daerahnya masing-masing. Hal itu dilakukannya dengan bekerjasama dengan pemerintah Jawa Timur, sesuai dengan posisinya sebagai Dewan Pakar Jawa Timur. “Semua itu demi masyarakat agar memiliki kesadaran terhadap bencana, sehingga bisa selamat dari bencana yang terjadi,” ujarnya memberikan alasan. Hisy, Ba’i

Advertisements

Comments»

1. richocean - 27 Feb 2010

smoga makin banyak sharingnya sehingga masyarakat awam makin tahu dan sadar

jika berkenan memberikan masukan2 di blog saya sharing sedikit ttg gempa

salam kenal


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: