jump to navigation

Prof. DR. H. Haris Supratno 16 Feb 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Tokoh Nusantara.
Tags: , , , , , , ,
trackback

Memadukan Kecerdasan dan Budi Pekerti

Nasib guru sebagai Oemar Bakri, terasa kian kikis dari imaji masyarakat. Sebab nasib mereka lambat laun memang telah berubah. Ini merupakan berkah dari tangan-tangan pejuang pendidikan, yang dengan gigih memperjuangkan nasib mereka. Dan salah seorang pejuang pendidikan itu, bernama Prof. DR. H. Haris Supratno.

Itulah sebabnya, ketika Rektor Unesa ini turut merumuskan Undang-Undang Guru dan Dosen, pengalaman empiriknya sebagai pendidik mulai ditelorkan ke dalam pasal-pasal perundangan. Pada intinya, UU Nomor 14/2005 tentang Guru dan Dosen itu mengandung tiga semangat. Pertama, peningkatan kualitas guru dan dosen. Kedua, peningkatan kesejahteraan guru dan dosen. Ketiga, pemberian perlindungan kepada guru dan dosen. “Dengan adanya UU. tersebut, kesejahteraan mereka otomatis akan mendapatkan tambahan satu kali gaji pokok,” terangnya. “Dengan begitu profesi guru akan lebih bermartabat. Sebab secara ekonomi, mereka tak sekedar bisa membeli ‘sepeda kumbang’ saja,” tambahnya sambil mengulum senyum.

Begitupun dengan tunjangan untuk Guru Besar. Selama ini, mereka hanya mendapatkan tunjangan sebesar 900 ribu rupiah. Sementara di Malaysia, di tahun 2005 sudah berkisar antara 30 sampai 35 juta rupiah. “Nah, saya mengusulkan agar disamping mereka mendapatkan tunjangan satu kali gaji pokok, juga ditambah dengan tunjangan penghormatan sebesar tiga kali gaji pokok,” tukasnya.

Dalam pasal yang lain, lanjut pria kelahiran Salatiga 28 Agustus 1955 ini, para dosen juga diperbolehkan menggunakan dokumen-dokumen rahasia negara untuk kepentingan akademik. “Dulu kita membaca bukunya Pramoedya saja, harus siap berhadapan dengan jeruji penjara. Sebab dengan begitu kita bisa dituduh telah menyebarkan faham Marxisme,” ungkapnya. “Jadi waktu itu kita belum bisa membedakan, mana untuk kepentingan akademik dan mana yang bisa dijerat dengan hukum pidana,” keluhnya.

Untuk menjawab krtik tajam tentang rendahnya mutu pendidikan kita, suami Endah Sulistyowati ini memasukkan pasal tentang peningkatan kualitas guru dan dosen. Intinya, setiap guru harus berijazahkan S1 dan S2 bagi dosen. “Kalau pendidiknya berkualitas, kita bisa mengharapkan output peserta didik yang berkualitas pula,” jelasnya. “Ini merupakan salah satu obsesi saya, utuk bagaimana dapat meningkatkan kualitas pendidikan nasional,” tandasnya.

Namun yang disayangkannya, kebijakan nasional tentang pendidikan terasa masih kental dengan nuansa politis. Hal inilah yang menghambat dari proses peningkatan mutu tersebut. Dirinya berharap, agar kelak dunia pendidikan benar-benar bisa lepas dari ranah politik. “Sebab selama kebijakan-kebijakan yang ada masih tercampuri kepentingan politik, tentu akan sangat susah meningkatkan kualitas pendidikan kita,” paparnya.

Adanya hambatan dan rintangan semacam itu, tak lantas membuatnya berputus-asa. Sebab dalam setiap perjuangan, bagi ayah dua putra ini, senantiasa membutuhkan kesabaran. Kearifan semacam ini, telah direguknya semasih menjadi bocah. Sebab sejak kecil dirinya memang dibesarkan dalam keluarga petani yang teramat bersahaja. Dalam lingkungan semacam itulah, kesederhanaan telah menjadi landasan kehidupannya.

Sewaktu bocah, Haris kecil belajar di tiga tempat sekaligus. Pagi hari bersekolah di SD, sore harinya di Madrasah Ibtidaiyah dan malam harinya harus mengaji di langgar. Itu semua ditempuhnya hingga pada tahun 1969. “Orang tua saya memang amat religius. Semua kakak-kakak saya dimasukkan ke pesantren,” katanya. “Ketika saya menempuh sekolah di PGA Magelang, juga diharuskan mondok ke pesantren,” tambahnya mengenang.

Ketika ingin melanjutkan studinya ke kampus, ayahandanya tak melarangnya. Hanya saja, dirinya diserukan agar menempuh kuliah di fakultas agama. Padahal yang diinginkannya adalah kuliah di kampus umum. Demi menuruti orang tua, maka dipilihlah Fakultas Syari’ah di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Setelah ditempuhnya setahun, dirinya merasa tak kerasan lagi. Maka di tahun 1976, dia hengkan ke Jember dan kuliah di Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Jember. “Yaa.. bisa saja saya disebut mbalelo sama orang tua. Namun akhirnya saya bisa meyakinkannya, bahwa antara ilmu agama dan pengetahuan umum itu harus berimbang,” kilahnya.

Meskipun harus mengawali semester awal lagi, dia termasuk sebagai mahasiswa yang pikirannya cemerlang. Terbukti, ketika teman seangkatannya belum selesai sarjana mudanya, dirinya malah sudah merampungkan sarjana lengkap. “Saya waktu itu adalah angkatan 77 dan sudah menyelesaikan program doktoral. Padahal dari angkatan 74, 75 dan 76 tak satupun yang sanggup merampungkannya,” paparnya bernada bangga.

Ketika selesai sarjana muda, anak keempat dari enam bersaudara ini sebenarnya mendapat beasiswa ikatan dinas. Sambil menunggu SK, dirinya diizinkan untuk melanjutkan studi program doktoralnya. Namun sampai program tersebut selesai, SK itu pun tak kunjung turun. “Ya karena memang sengaja tidak saya urus. Dengan begitu saya bisa menyelesaikan program doktoral saya,” tuturnya sambil tertawa lirih.

Setelah lulus dari Unej pada tahun 1981, dirinya diterima sebagai dosen di IKIP Surabaya. Setelah beberapa tahun mengajar di sini, sebenarnya ada kesempatan untuk melanjutkan kuliah. Namun mengingat dirinya harus mengkuliahkan tiga orang sekaligus – istri dan kedua adiknya, maka niatan itu pun diundur. Sementara rekan seangkatannya pada ramai-ramai melanjutkan studinya ke S2. Baru ketika adik-adiknya sudah rampung kuliahnya pada tahun 90, kesempatan itu mulai membentang kembali.

Setahun kemudian Unair Surabaya membuka Program S3, yang boleh diikuti oleh S1 dari program doktoral lama. Tanpa pikir panjang dirinya langsung mengikutinya dan dinyatakan bisa mengikuti perkuliahan S3. “Ketika saya masuk, teman-teman saya belum rampung menyelesaikan kuliah S2-nya,” ujarnya.  Di tahun 1995 dirinya berhasil merampungkan S3-nya, dengan Disertasi yang berjudul “Wayang Sasak Lakon Dewi Rengganis Dalam Konteks Perubahan Masyarakat di Lombok; Kajian Sosiologi Kesenian”.

Dari sanalah karirnya lantas berkibar. Pada tahun 1996, diserahi jabatan sebagai Pembantu Dekan I. Setahun kemudian menjadi Sekretaris Jurusan Bahasa Daerah Jawa. Sebelum jabatan tersebut usai dipanggulnya, pada tahun 1998 dirinya menjabat sebagai Dekan Fak. Bahasa dan Sastra di Unesa. Bahkan ketika jabatan ini pun belum selesai masa tugasnya, dia malah diserahi jabatan sebagai Pembantu Rektor I pada tahun 1999. “Makanya ada yang bilang saya ini pejabat three in one,” kelakarnya.

Pada tahun 2001, lelaki yang hobi membaca dan menulis ini menerima anugerah Guru Besar di bidang sosiologi sastra. Dan di tahun itu pula diserahi menjadi Plh. Rektor. Setahun kemudian, baru dilantik menjadi Rektor Unesa. Dan di tahun 2006 terpilih kembali menjadi Rektor di tempat yang sama hingga sekarang. Pada tahun ini, Haris Supratno juga dipercaya sebagai Ketua umum SNM-PTN dan Koordinator Nasional pengawas UAN. Disamping itu dirinya juga sebagai penguji program doktor di berbagai perguruan tinggi; seperti Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, Universitas Udayana dan Unesa sendiri.

Satu hal yang sangat ingin dicapainya, adalah membentuk anak bangsa yang tidak saja pintar dan cerdas. Lebih dari itu, mereka harus pula memiliki keimanan dan ketaqwaan, berbudi pekerti dan berakhlakul karimah. Sebab tidak ada maknanya kecerdasan dan kepintaran, tanpa dilandasi dengan keimanan, ketaqwaan, akhlak dan budi pekerti. “Ini tak harus ada mata pelajaran dan perkuliahan tersendiri tentang hal tersebut. Semua guru dan dosen memiliki tanggung jawab dan komitmen untuk mengembangkan budi pekerti peserta didiknya,” jelasnya. “Kalau itu hanya semata diserahkan pada guru agama, saya yakin tidak akan berhasil. Sebab jam mata pelajarannya sangat sedikit sekali. Lebih ideal, kalau semua guru turut melakukan pembinaan budi pekerti tersebut,” tegasnya.

Menurutnya, setiap lembaga pendidikan haruslah sanggup mentransformasikan ilmu pengetahuan, serta menyeimbangkannya dengan nilai-nilai agama. Adanya Madrasah Unggulan dan yang Berstandar Internasional, itu menandakan bahwa masyarakat kota telah menyadari betapa pentingnya agama. “Model perpaduan inilah yang seharusnya kita terapkan bersama. Sebab dengan paduan yang serasi, maka akan dapat diwujudkan pembangunan manusia seutuhnya,” tandasnya. “Saat ini belum banyak orang yang menguasai keduanya tersebut. Kalau ada, dia pasti menonjol di negeri ini dalam bidang apa pun,” tambahnya. Il

Advertisements

Comments»

1. ani - 19 Feb 2010

jadi guru sekarang susah-susah gampang… susahnya jika anak didik belum bisa diyakinkan bahwa pendidikan itu penting bagi mereka, dengan cara lembut susah mencapai hasil, dgn cara kasar (masa iya guru berbuat kasar…), takut termasuk kategori kekerasan. Teman2 bilang, jika anak didik berbuat kasar kepada gurunya maka guru harus sabar dan tetap mengajarinya akhlak yang baik. Tapi jika guru berbuat kasar kepada muridnya, anak didik bisa melaporkan guru itu ke polisi… 🙂 Ada miss communication barangkali ya.. Whats wrong?…

2. kartika dwi - 9 Mar 2013

pak,boleh lihat hasil karya S3nya tentng “Wayang Sasak Lakon Dewi Rengganis Dalam Konteks Perubahan Masyarakat di Lombok; Kajian Sosiologi Kesenian”.??
sepertinya menarik unt di baca. kalau boleh, mohon di uplod:)
kalau boleh krim d email saya:)
dwidwik38@yahoo.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: