jump to navigation

Pendidikan Rotan Panjang 16 Feb 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Artikel.
Tags: , , , , ,
trackback

Oleh Ilung S. Enha *)

Masih ingatkah Anda dengan penggalan untaian syair Gibran Khalil Gibran ini? Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu/Mereka anak-anak zaman yang merindukan kehidupannya sendiri/Melaluimu mereka lahir, tapi bukan darimu/Kau boleh titipkan kasih sayang padanya, tapi jangan paksakan cita-cita untuknya/Kau boleh membangunkan rumah untuk tubuhnya, tapi bukan untuk jiwanya/Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan yang tiada dapat engkau singgahi/Engkau adalah busur dan anak-anakmu adalah mata anak panah yang meluncur…..

Anda sepakat dengan deretan puisi penyair Lebanon kebanggaan dunia itu? Ayah saya kiranya sama sekali tak mempercayainya. Dia lebih percaya pada rotan panjang di tangannya. Jika saya enggan sembahyang dan mengaji, rotan berukuran sebesar tiga kali jari jempol itu lebih cepat melayang ke punggung dan paha saya daripada kata-kata amarahnya. Alasannya, ayah tak sedang memukul tubuh anak-anaknya melainkan mengusir syetan yang bersemayam dalam diri mereka. Walhasil – gara-gara “pendidikan rotan panjang”, sewaktu kecil saya pernah mengaji seiring dengan shalat lima waktu; sehabis Shubuh, selepas Dhuhur, ba’da Ashar, sehabis Maghrib dan seusai shalat Isya’.

Tentu saja waktu itu saya merasa cukup kesal dan ngambeg. Tetapi anehnya, saat beranjak remaja sama sekali saya tak menaruh dendam padanya. Bahkan yang terjadi dari pergumulan pemikiran saya, seringkali saya cenderung membenarkan tindakannya. Sebab sewaktu dewasa, kenangan rasa sakit itu justru kerapkali yang melecut diri saya ketika mengalami rasa kemalasan dalam menghadap kepadaNya. Betapa jauhnya bentangan jarak antara sewaktu kecil dan kondisi kekinian dalam konteks menghampiriNya?

Tetapi ketika dikaruniai anak, kayaknya saya sama sekali tak berani mengeterapkan metode “pendidikan rotan panjang” tersebut. Saya benar-benar merasa takut, jangan-jangan hal itu justru menjadi investasi yang bakal menuai dendam anak-anak saya di kemudian hari. Lebih-lebih menurut kaca mata ilmu pengetahuan kekinian, orang tua berkewajiban untuk memenuhi dan mengawal pertumbuhan bio-psycho-sosial-spritual yang dibutuhkannya demi hari depan mereka.

Apalagi untuk mengeterapkan “pendidikan rotan panjang” tersebut, dibutuhkan prasyarat keikhlasan dan rasa tulus ketawakkalan kepadaNya. Ayah saya melakukan itu semua, ucapnya suatu hari kepada saya, semata-mata karena perintah Nabi agar memukul putra-putrinya jika tak mau bergegas melaksanakan kewajiban perintah shalat. Sedangkan keharusan mengaji, menurutnya, kelak hal itu yang akan mengontrol perjalanan hidup saya. Sebab tak mungkin sebagai ayah, dia akan bisa mengikuti langkah anak-anaknya – lantaran setiap generasi akan memiliki zaman yang berbeda –, katanya mengutip maqalah sayyidina Ali k.w.

Kita bisa saja menertawakan dengan lantang “pendidikan rotan panjang” semacam itu. Tetapi ketika menyaksikan produk anak zaman kekinian, mungkin cukup untuk membungkam cemoohan kita tersebut. Bayangkan, sejak kecil mereka sudah kita sodorkan ke TPA-TPQ. Sewaktu SD sudah kita kursuskan bahasa Inggris. Beranjak SMP kita lincahkan tangan mereka dengan keyboard dan mouse komputer. Sewaktu SMA mereka sudah pintar mengakses internet. Pada saat kuliah, beragam teori pengetahuan abad kontemporer telah pula dijejalkan ke tabung otak mereka. Tetapi yang miris, mereka masih sangat terbata-bata dalam mengeja huruf e-t-i-k-a. Kita benar-benar dibikin termangu tatkala menonton adegan moralitas yang mereka perankan. Sekedar kabar – konon kata teman-teman, di internet sudah banyak sekali potongan gambar siswi dan mahasiswi berjilbab yang berani telanjang dada dan saling pamer buka paha.

Tetapi sebaiknya kita tak lantas sertamerta menudingkan kesalahan kepada mereka. Pasalnya, mungkin saja kita tak terasa bahwa selama ini kantong-kantong moral telah berubah fungsinya. Keluarga lebih sibuk untuk meraup keuntungan materi – dengan alasan demi mempersiapkan masa depan anak-anaknya – daripada ngurusi moralitas mereka. Lingkungan sosial lebih direcoki oleh persaingan hidup dan percekcokan konflik yang tak berujung dan tak berpangkal. Sementara sekolah lebih mementingkan kecerdasan dan kepintaran sehingga abai terhadap etika siswa-siswinya. Bahkan dunia pesantren – yang dulu dianggap sebagai penjaga gawang akhlak secara absah, kini lebih menyibukkan diri bagi kemajuan modernitas agar tak tertinggal perkembangan global, serta sebagian kyainya malah merasa lebih gagah berkoar di panggung-panggung dunia politik pembusukan.

Maka solusinya, bagaimana kita menggantikan “pendidikan rotan panjang” tersebut dengan simbol pendidikan zaman kekinian. Simbol itulah nantinya yang akan mengontrol perjalanan diri dan kehidupan mereka. Menurut saya, masukkan saja materi tasawuf dalam ruang-ruang kelas sekolah kita. Biar ada waktu jedah bagi siswa-siswi kita untuk tak lagi berfikir tentang kecerdasan matematiknya, logika percepatan pembelajaran, menghafal tabel-tabel dan rumus-rumus, terperangah di depan gemerlapnya ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi, sehingga dapat menyisihkan sejenak waktunya khusus buat menghela nafas yang penuh dengan atmosfir keilahian. Namun yang perlu digaris tebal-tebal, bahwa materi tersebut tak sekedar berupa knowledge semata, melainkan pula berupa “ritus olah hati” sehingga bisa teraplikasi pada sikap laku diri kepribadian mereka.

Tanpa tasawuf, saya khawatir jangan-jangan teriakan kita tentang pentingnya moralitas bagi dunia pendidikan, hanya nyaring terdengar di ruang kosong kesunyian. Ah!

*) Kreator Intelegensia ADEC (Alternative Development & Education Centre)

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: