jump to navigation

Memancing Pembaca dengan Lead 16 Feb 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Artikel.
Tags: ,
trackback

Oleh Ilung S. Enha *)

Lead, pengertian gampangnya, adalah alinea pertama dalam sebuah tulisan. Sebagaimana kata leader, ia harus sanggup memimpin seluruh isi, alur dan bahasa tulisan. Karena pentingnya lead ini, maka dalam membuatnya tak bisa kita lakukan dengan asal-asalan, sekedar jadi atau dengan begitu saja menyusun kalimat sebagai pembuka tulisan.

Lead itu bagai sebuah etalase pertokoan di plaza-plaza. Jika tak menarik, maka tak akan ada pengunjung yang mau menghampirinya. Oleh karenanya, ia harus didesain secara apik dan menarik. Untuk menjadi apik, kita bisa meramunya dengan permainan bahasa – baik pilihan kata maupun penyusunan kalimat yang berirama. Dan untuk menjadi menarik, kita bisa memancingnya dengan permasalahan yang kuat, aktual dan dibutuhkan banyak orang.

Intinya, dari setiap lead yang kita bikin, haruslah mengundang rasa keingintahuan pembaca. Semakin banyak mengundang rasa ingin tahu, karena beragam “hal” yang dituangkan dalam lead, itu menandakan bahwa lead kita berhasil. Inilah sebabnya, seorang penulis bisa saja berjam-jam lamanya melotot di depan komputer, gara-gara belum menemukan sebuah lead yang dianggap bisa mengundang rasa keingintahuan itu.

Dalam mengundang rasa ingin tahu tersebut, tak perlulah kita merasa dibatasi oleh aturan-aturan baku jurnalisme. Tapi ingat, kelonggaran itu tak berarti bahwa kita bebas mengumbar syahwat sensasi. Sebab untuk dapat menarik, bisa saja kita membuat isi tulisan yang sangat kontroversial dan ngawur. Ketidakketaatan itu dimaksudkan, agar ketika membuat sebuah lead, pikiran kita tak terjerat oleh rumus-rumus sempit kepenulisan.

Lihat saja lead seorang kolumnis ulung yang sudah almarhum ini. Dia begitu bebas membuka Esainya dengan gaya bertutur khasnya yang melompat-lompat: Tempo dulu, kalimat “sudah menjadi tradisi” sudah cukup menyetop orang yang masih banyak cincong. Argumen, pertimbangan, dalih, diharap supaya minggir saja. Protes? Tak lain dari kerja brandalan. Tradisi adalah sang perahu yang masih berfungsi. Sekarang soalnya lain. Telah muncul di tengah-tengah kita gembala sosial baru, kaum modernis dengan perangai jejaka kota, berteriak tanpa was-was: “Tradisi, menyingkirlah kalian!” (Mahbub Djunaidi – Kolom Demi Kolom).

Goenawan Mohamad, mantan Pemimpin Redaksi majalah TEMPO ini, dengan renyahnya membuka Kolomnya dengan model pemaparan tokoh: Siapa mencintai Togog? Tokoh wayang ini buncit. Matanya melotot tolol. Mulutnya mencuat lebar, bak paruh burung. Ia pendek di bawah normal. Yang lebih malang lagi: bila Semar, Gareng, Petruk dan Bagong selalu berada di pihak yang baik-baik, maka Togog selalu ikut pihak yang salah – dan kalah (Goenawan Mohamad – Catatan Pinggir 2).

Sementara Fahry Ali, justru membuka opininya dengan kutipan: “Mekkah di bawah Raja Saud ternyata tidak cocok bagi segenap aspirasi politik,” tulis Van de Meulen dalam buku Hoort gij donder niet? Menurut Meulen, Saud adalah pemimpin Islam yang sangat keras dari golongan Sunni. “Ia ingin mengembalikan Mekkah sungguh-sungguh sebagai kota suci, yakni tempat segala macam kegiatan (termasuk politik) di luar kegiatan agama, dilarang.” (Fahry Ali; Golongan Agama dan Etika Kekuasaaan – Politik di Baitullah).

Di babak awal “novel sosial”nya, Emha Ainun Nadjib malah bermain-main dengan filsafat: Kiai Semar lenyap, tapi jangan-jangan tak seorang pun dari penduduk Karang Kedempel yang merasa perlu mencarinya. Orang yang kehilangan, setidaknya akan ingat bahwa ia kehilangan. Tapi kalau terlalu lama ia kehilangan sesuatu, akhirnya yang hilang bukan hanya sesuatu itu, tetapi juga rasa kehilangan itu sendiri (Emha Ainun Nadjib – Catatan Punakawan atawa Arus Bawah).

Penulis kontroversial Ivan Illich, terbiasa memberi pembuka pada setiap tulisannya dengan cara mengobrak-abrik kecenderungan berfikir umum: Terbentuknya ilmu pengobatan telah menjadi ancaman utama bagi kesehatan. Dampak ketidaksanggupan mengontrol obat secara profesional, telah mencapai tingkat epidemi. Diskusi tentang penyakit sebagai akibat kemajuan medis, telah meningkat menjadi agenda konferensi-konferensi medis. (Ivan Illich; Limits to Medicine – Batas-Batas Pengobatan; Perampasan Hak Untuk Sehat)

Sementara almarhum KH Saifuddin Zuhri, lewat novel hasil rekaman pengalaman masa lalunya, dengan cara memaparkan persoalan via gaya bahasa bertingkat: Kalau saja di depan kelas bertengger jam dinding, pastilah jalan menit-menit itu akan kuhitung satu demi satu dalam tarikan nafas panjang. Lama benar rasanya menanti waktu pulang. Tetapi jam dinding itu tak pernah ada. Biar jam tua sekalipun. Tak ada seorang pun anak-anak yang memiliki jam. Ini bukan zamannya anak-anak memiliki jam. Itu satu kemustahilan. Tak terjangkau dalam angan-angan kami memiliki jam, melebihi tak terjangkaunya berfikir memiliki sepasang sepatu. (KH Saifuddin Zuhri – Guruku Orang-Orang Dari Pesantren)

Melalui Refleksinya, kiranya Imam Haromain Asy’ari lebih gemar menyapa pembacanya dengan sentuhan renungan: Adakah seorang anak harus merentang masa depannya sendiri? Hendaknya kita berfikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan tersebut. Sebab terlalu mengekang kemerdekaannya dengan tali disiplin yang ketat, kuranglah menguntungkan bagi perkembangan si anak. Begitu pun sebaliknya, dengan melepas tali ikatan secara longgar justru bisa akan menjerumuskan diri mereka sendiri (Hasiyah – MIMBAR Pembangunan Agama; edisi 248/Mei 2007).

Penulis artikel muda yang genia, Eep Saifulloh Fatah, memberikan pancingan dengan cara menambah kekuatan diksi atas persoalan yang dibahasnya: Sepanjang sejarah Orde Baru, tampaknya, belum pernah gugatan terhadap status quo dan tuntutan akan reformasi didiskusikan sekerap sekarang ini. Bahkan tidak hanya sekedar kerap didiskusikan, gugatan dan tuntutan itu makin diyakini harus diakomodasi oleh sistem politik – menjadi sebuah keharusan empirik yang tak tertawarkan (Eep Saifulloh Fatah – Catatan Atas Gagalnya Politik Orde Baru).

Penulis genius muda lainnya (he. he.. he…), lewat Buku tasawufnya mencoba melakukan semacam “teror psikologis”, demi untuk merangsang keingintahuan pembaca tersebut: Setiap manusia, dalam kehidupannya, akan selalu dijepit oleh dua kekuatan yang saling tari-menarik; baik-buruk, benar-salah, haq-bathil. Di balik itu semua, terdapat rahasia yang tersembunyikan. Sehingga segala rupa permasalahan dalam kehidupan ini, apabila digali secara mendalam, maka akan tampak menjadi gelap yang berlapis-lapis atau berupa gulungan cahaya yang bertingkat-tingkat (Ilung S. Enha – Mencari Tuhan di Warung Kopi; Meraih Cinta Tanpa Guru).

Alhasil, ketika kita usai membuat sebuah lead, maka pertanyaan yang wajib kita ajukan: apakah lead tersebut mengundang rasa ingin tahu pembaca? Jika jawabannya tidak, maka buang saja sama sekali lead tersebut dan ganti dengan lead yang baru. Namun apabila jawabannya masih meragukan – bisa ya dan bisa pula tidak, maka benahi dengan serius lead tersebut. Apabila jawabannya mungkin, segera perhaluslah lead tersebut. Dan apabila jawabannya pembaca pasti tertarik, itu berarti Anda termasuk penulis yang gampang GR (he.. he..!).

Yang saya maksudkan, jangan pernah menganggap bahwa lead yang kita bikin itu sempurna. Yang bisa kita lakukan hanyalah sekedar kerja menulis lead yang maksimal dan secara optimal. Selama ada kalimat atau bahkan kata yang masih bisa diubah, maka segera ubahlah. Tetapi jika kita merasa sudah tak mampu mengubahnya lagi – atau memang terasa tidak ada lagi yang perlu diubah, maka anggap untuk sementara waktu bahwa lead yang kita buat itu sudah bagus.

Pokoknya, jangan sekali-kali menulis kalimat lain, selagi lead yang kita bikin masihlah belum rampung. Lantaran itu akan dapat membuat tulisan kita menjadi rancu. Sebab lead yang ngambang, akan selalu membikin tulisan jadi berkelok-kelok kehilangan arah dan tak tahu kapan harus menyudahinya. Sedangkan lead yang bagus, akan senantiasa menggiring tulisan menjadi bagus pula. Tidak percaya? Buktikan saja!

*) Redaktur Senior Majalah MIMBAR Pembangunan Agama Kantor Wilayah Departemen Agama Prov. Jawa Timur

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: