jump to navigation

Melakukan Wawancara yang Efektif 16 Feb 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Artikel.
Tags: , , ,
trackback

Oleh Ilung S. Enha *)

Ketika melakukan wawancara, mana yang lebih Anda pilih dari ketiga hal ini? Pertama, memposisikan narasumber sebagai orang yang wawasannya jauh di atas kita, sehingga kita selalu terdiam saat dirinya memberikan ulasan apa saja atas pertanyaan yang kita ajukan. Sepanjang apa pun jawabannya, sebelum dirinya menyelesaikan ulasannya, kita tak berani menyela untuk memberikan pertanyaan lanjutan. Karena menganggap jawabannya selalu benar, maka kita sama sekali tak berani ”menyangsikan” jawaban tersebut dan apalagi memberikan sanggahan.

Kedua, memposisikan narasumber sebagai orang yang benar-benar faham pada bidang tertentu dan tak memahami bidang lainnya, sehingga kita selalu mengarahkannya dengan pertanyaan agar dirinya menjawab sesuai bidang yang dikuasainya dan tak ngelantur kemana-mana. Karena menganggapnya hanya mengetahui satu bidang tertentu, kita selalu menstopnya dengan pertanyaan lain saat dirinya mencoba memberikan jawaban dengan keluar dari bidang yang dikuasainya.

Ketiga, kita memposisikan narasumber sebagai teman dialog atas permasalahan yang tengah kita perbincangkan, sehingga kita sering menyela pada saat dirinya tengah asyik-asyiknya mengungkapkan pandangannya. Karena kita merasa menguasai masalah yang diulasnya, maka kita pun tak segan-segan juga memberikan ulasan yang seimbang. Bahkan waktu kita berbicara sama panjangnya dengan waktu yang kita berikan kepada narasumber.

Sebaiknya, kita tak lekas sertamerta menentukan satu di antara ketiga hal tersebut. Karena kalau kita terlanjur menentukannya dan kita jadikan sebagai style kita, di lapangan akan banyak sekali mengalami hambatan-hambatan. Dengan membiarkan narasumber menjawab apa saja atas pertanyaan yang kita ajukan, akan membuat data yang kita dapatkan terlalu bertele-tele dan memakan banyak waktu. Demikian pula saat kita terlalu mengarahkan narasumber melalui pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan, data yang kita dapatkan akan tampak terlalu formal, kering improvisasi, tak memunculkan ide-ide yang sifatnya intuitif, tak kaya ulasan-ulasan inovatif yang agak ”imajinatif”, serta tentu saja terlampau baku dan kaku.

Begitu pun kalau kita memposisikan narasumber sebagai teman dialog. Model ini juga beresiko narasumber akan kurang leluasa dalam mengungkapkan keluasan wawasannya. Sebab dirinya akan merasa, bahwa orang yang tengah diajaknya ngobrol adalah orang yang juga ”setara” dengan dirinya, sehingga ada rasa kehati-hatian dalam mengungkapkan pandangannya. Lebih fatal lagi, jika kita terlampau menampakkan ”kepintaran” kita – misalnya dengan ”benar-benar” memberikan sanggahan yang sangat argumentatif.

Agar wawancara yang kita lakukan lebih efektif, maka kita harus memahami terlebih dahulu siapa narasumber tersebut. Apakah dirinya termasuk orang yang suka bersikap formal, sangat serius, terfokus pada persoalan dan tak suka basa-basi. Atau mungkin pula narasumber yang kita wawancarai, adalah orang sangat hangat diajak bicara, terkesan sok akrab, senang bicara sedikit ngelantur, bahkan paling gemar tertawa sampai terbahak-bahak.  Atau bisa jadi narasumber kita adalah orang yang agak sedikit humoris tapi sangat brilian ide-idenya, pilihan kata-katanya sangat fasih, mungkin agak kurang sistematis cara menguraikannya, tak suka ngomong berpanjang-panjang, serta terkesan sangat hemat pada waktu.

Dengan mengetahui sedikit perwatakan narasumber tersebut, kita akan bisa meletakkan ketiga pilihan di atas secara cermat. Tak harus memilih salah satunya, melainkan bisa meramunya sebagai adonan secara enak. Seorang narasumber yang formal dan sangat terfokus pembicaraannya, bukan berarti kita harus menghadapinya dengan cara formal dan terpusat lurus pada tema pembicaraan. Sebab hal itu akan membuat arus wawancara menjadi tegang dan kaku. Kita bisa saja menyelipkan humor sejenak yang bisa membuatnya tersenyum, sehingga jawaban yang diberikannya akan lebih cair dan menjadi agak lentur.

Begitupun dengan narasumber yang senang ngomong berpanjang-panjang dan suka ngelantur, bisa saja kita memberikan ”sanggahan” dengan irama yang sangat serius. Dengan begitu diharapkan agar dirinya lebih terfokus pada permasalahan yang sebenarnya tengah diperbincangkan. Tak usah segan-segan menyetop di tengah-tengah pembicaraan, kalau memang hal itu kita rasa terlampau menyimpang jauh dari fokus pembicaraan.

Untuk narasumber yang irit kata-kata dan sangat hemat waktu, cobalah jejali dengan pertanyaan-pertanyaan yang kita perkirakan akan membutuhkan jawaban yang tak singkat. Tak usah sungkan-sungkan melakukan ”sanggahan”, dengan catatan jika hal itu dapat menarik narasumber sehingga melakukan tanggapan balik. Tetapi ingat, jangan sampai kita mengajukan pertanyaan yang sifatnya basa-basi. Sebab narasumber semacam ini, akan sangat tidak menyukai pertanyaan semacam itu. Lebih baik carilah lontaran-lontaran ringan, yang itu justru dapat membuat dirinya agak ”terpojok”. Dengan begitu dirinya akan pula mencari lontaran sebagai sanggahan atas pancingan kita.

Tapi apa pun yang kita lakukan, tujuannya adalah satu; menggali data yang akurat, aktual, mendalam, informasi tersebut dibutuhkan banyak orang, bersifat inovatif dan sangat menarik buat pembaca. Untuk itulah, sebelum melakukan wawancara, biasakan membikin draft pertanyaan terlebih dahulu. Di samping hal tersebut berfungsi sebagai pemandu, juga seringkali sangat membantu kita pada saat terjadi ”kemacetan” dari lalulintas perbincangan kita dengan narasumber.

Yang lebih penting lagi, saat melakukan wawancara, jangan sekali-kali melakukan sesuatu yang ”tak disukai” oleh narasumber. Usahakan dalam seluruh waktu wawancara, narasumber kita tampak selalu menyukai perbincangan tersebut. Jika data utama yang kita gali telah terpenuhi dan kita gagal membuat narasumber menjadi betah atas perbincangan itu – sehingga kelihatan agak ”resah”, sudahi saja wawancara tersebut (Ingat! Masih banyak kesibukan lain yang harus dikerjakan oleh narasumber).

Dari seluruh persoalan seputar wawancara di atas, yang paling sulit adalah ketika menghadapi narasumber yang menolak untuk diwawancarai. Jika kita ketepatan mengalami hal tersebut, jangan sekali-kali kita langsung mengiyakannya. Berusahalah sekuat mungkin agar dirinya mau memberikan waktu wawancara. Selama narasumber tak menampakkan sikap ”amarah”nya atau bahasa kasarnya ”belum diusir”, selalulah berusaha untuk diberikan waktu wawancara – minimal dijanjikan pada waktu yang lain.

Jika penolakannya karena tema yang tak disukainya, segera alihkan pada tema yang bisa memancingnya untuk memberikan ulasan. Di tengah-tengah perbincangan itulah, kita bisa nyerempet-nyerempet ke tema semula – yang sebenarnya memang tengah kita butuhkan. Apabila persoalannya adalah karena memang dirinya sangat tidak suka terpublikasikan, katakan bahwa yang kita butuhkan adalah informasi seputar masalah tersebut dan bukan terfokus pada pempublikasian figur dirinya.

Kalaupun alasannya karena sempitnya waktu dan banyaknya acara, katakan bahwa kita cuma membutuhkan waktu yang tak panjang. Kita bisa langsung menawarkan waktu tersebut. Misalnya kami hanya memerlukan waktu setengah jam saja. Jika pun itu masih tak diberikan, mintalah waktu seperempat jam. Jika hal itu pun masih saja dianggapnya kepanjangan, mintalah waktu sepuluh menit. Jika pun masih ditolaknya, mintalah waktu wawancara di hari yang lain. Kalau pun masih tak ada jadwal juga untuk kita, mintalah wawancara via telpon saat dirinya berada di tengah perjalanan menuju ke acara lain.

Saat kita diperbolehkan mewawancarai narasumber dalam waktu yang singkat sekali, usahakan langsung memberikan pertanyaan yang sangat menarik bagi dirinya. Sebab kalau itu berhasil, biasanya narasumber lupa terhadap waktu yang diberikan kepada kita. Sepuluh menit yang diberikannya bisa menjadi dua kali lipat, setengah jam yang diberikannya bisa molor sampai berjam-jam. Sebagai catatan: dalam waktu wawancara yang sempit, jangan pernah menanyakan sesuatu yang sebenarnya bisa kita dapatkan dengan cara lain – misalnya dari referensi, observasi atau riset.

Intinya, ketika kita telah merancang sebuah tulisan dan membutuhkan data informasi yang harus digali melalui wawancara, jangan pernah mau berhenti apa pun yang menjadi hambatan di depan. Tuangkan seluruh kreativitas dan skill kecakapan kita untuk menembus rintangan dan hambatan tersebut. Selama narasumber yang akan kita wawancarai masih bernama manusia, pasi tersedia jalan untuk menuju ke arah sana.

Saya kira, kegagalan kita selama ini dalam melakukan wawancara, lebih disebabkan oleh permasalahan internal dalam diri sendiri: entah itu yang bernama kemalasan, rasa enggan, perasaan dagdigdug, rasa bosan, niatan yang sekedar alakadar, atau alasan yang kita susun sendiri secara rapi; bahwa narasumber seakan-akan benar-benar sangat sulit untuk dapat sejenak saja bisa ditemui. Ah!

*) Redaktur Senior Majalah MIMBAR Pembangunan Agama Kantor Wilayah Departemen Agama Prov. Jatim

Advertisements

Comments»

1. Drs. H. Moh. Holili, M.Pd.I - 11 May 2011

Bagus…bagus…bagus artikel terseut,khususnya bagi guru dan kepala sekolah yang biasanya melakukan study banding.

2. Drs. H. Moh. Holili, M.Pd.I - 11 May 2011

Tolong Bung….dibikinkan pula, kiat-kiat praktis cara membuat PTK Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar, seperti contoh-contoh judul PTK yang layak ditulis. Terima kasih

3. muh al - raffi - 25 Sep 2012

verryyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy gooddddddddddddddddddddddddddddddddddddddddd
istimewa


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: