jump to navigation

Ir. H. Soehadi Djami’in 16 Feb 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Tokoh Nusantara.
Tags: , , , , , ,
trackback

Melahirkan Generasi Berotak Habibie dan Berhati Hamka

Siapa sangka kalau Ir. H. Soehadi Djami’in, pulang kembali ke desa kelahirannya? Namun itulah jalan hidup yang telah dipilihnya. Sudah satu setengah tahun hal itu dilakoninya. Padahal sejak remaja lelaki yang lahir pada tanggal 4 Sepetember 1943 ini, telah meninggalkan desa kelahirannya Godong, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang. “Saya pulang ke sini tepat pada Idul Qurban bulan Desember 2008. Sengaja saya paskan kurbanan, agar gampang mengingatnya,” tuturnya dengan senyum ceria.

Setiap pagi, waktunya lebih banyak dihabiskan untuk berkebun. Banyak jenis pepohonan yang telah ditanamnya; mangga, nangka, pepaya, melon, anggur, kelengkeng dan jenis lainnya, serta kacang-kacangan dan umbi-umbian. Untuk kebutuhan memasak sehari-hari, juga sudah terpenuhi dari sepetak kebun yang tepat berada di belakang rumahnya itu. “Saya masih punya kesibukan lain. Ada dua kolam yang saya pakai buat ternak ikan mas, ikan patin dan nila,” tukasnya.

Seusai berkebun, baru menengok Play Group dan TK yang telah didirikannya tahun lalu. Letaknya juga berada tepat di samping rumahnya. Seluruh wali murid yang menitipkan anaknya di sana, sama sekali tak dikenai biaya alias gratis. “Sebab masyarakat di sini kondisi ekonominya tak seperti di kota-kota besar. Makanya agak susah untuk mengembangkan pendidikan di sini, seperti yang saya maui,” ungkapnya bernada keluh. “Kecuali ada aghniya’ kota yang mau turut membantunya,” harapnya.

Ketika langit di ufuk Barat bersemburat warna kemerahan, suami Dra. Hj. Inah Djumainah ini sudah berada di Mushalla depan rumah. Seusai menjadi Imam Shalat Maghrib, dirinya rutin memberikan cermah agama kepada ibu-ibu. Setiap harinya ada sekitar 20 orang yang mengikuti pengajian tersebut. Sementara untuk bapak-bapaknya, diadakan hanya seminggu sekali. Tapi pesertanya lebih banyak, berkisar hingga 40 orang. “Dulu bahkan pernah mencapai angka seratus lebih, sehingga Mushallanya nggak cukup. Tapi setelah saya lebarkan bangunannya, peserta pengajiannya malah menurun,” tuturnya menyayangkan.

Mushalla tersebut juga difungsikannya untuk membina kaum remaja. Mengenai waktunya, biasanya dilaksanakan setelah shalat jamaah Ashar. Kelompok remaja ini diberi nama khusus; Botaq (Bocah Taqwa). “Meskipun jumlahnya belum banyak, tapi itu sudah mending. Sebab saat kami pertama kali pulang ke sini, keberadaan Mushallanya Senin-Kamis alias kembang-kempis. Hanya sekitar 4-5 orang yang mau masuk Mushalla,” katanya membandingkan.

Mushalla kecil inilah, yang dulu digunakan Soehadi cilik bersama rekan-rekannya untuk mengaji al-Qur’an. Maklum, putra pasangan pak Djami’in dan bu Siti Khairiyah ini, memang dilahirkan dalam lingkungan rumah tangga yang religius. Meski ayahnya adalah seorang Carik Desa, tetapi memiliki dedikasi yang besar terhadap syiar Islam. “Saya dulu pertama belajar ngaji, ya pada Bapak saya. Beliau orangnya sangat tegas dan disiplin,” tuturnya mengenang.

Sehabis ngaji pada malam hari, biasanya dia tidur bersama teman-temannya – yang waktu itu masih duduk di bangku kelas IV Sekolah Rakyat – di Mushalla. Waktu yang luang itu mereka isi kegiatan mencari ikan di sungai, dengan menggunakan lampu penerang. “Setelah mendapatkan banyak ikan, kami langsung kembali dan mengadakan acara masak-masakan di samping Mushalla,” ceritanya sambil menerawang ke masa kanaknya.

Selepas lulus SR, lalu melanjutkannya ke SMPN Jombang. Setiap hari dirinya harus rela mengayuh sepeda sepanjang 15 Km, melewati terjal jalanan yang berkelok berbatu. Suasananya waktu itu masih sangat sepi sekali. Kanan kirinya lebat ditumbuhi rimbun batang pandan yang berduri. “Jika mau lewat, saya mesti nunggu barengan dulu. Entah bersama pedagang kapuk, penjual es, atau pedagang lainnya,” kisahnya mengenang. “Setelah tiga bulan saya lakoni, kemudian saya memilih kos di Jombang kota,” tambahnya.

Ketika SMA, ayah empat anak ini hengkang ke Malang. Semula nimbrung di rumah pakleknya. Karena merasa tak berkecocokan, akhirnya pindah kos ke sebelah Barat alun-alun Malang. Di sini dia merasa senang, karena berdekatan dengan Masjid Jami’. Dengan begitu akan memotivasinya untuk tekun beribadah dan giat mengkaji ilmu keagamaan. Tetapi selalu saja datang sesuatu yang membuatnya tak kerasan di tempat kos. Akhirnya dia pindah lagi ke tempat yang lain.

Pada tahun 1963, dirinya masuk ke ITS jurusan teknik perkapalan. Baru setahun dijalaninya, lantas pindah ke Fakultas Perikanan Cabang Unibraw di Probolinggo. Namun tetap saja tak krasan. Baru tiga bulan kuliah di sana, lalu pindah lagi ke Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan di Universitas Brawijaya Malang jurusan peternakan.

Ketika menjadi mahasiswa, Soehadi aktif di HMI. Disamping itu juga sangat getol mengikuti berbagai kajian keagamaan. Itulah sebabnya, ketika mengajar di PPSP IKIP Surabaya di tahun 1979, dirinya mendirikan BOTAQ SC (Bocah Taqwa Studi Club). Selepas dari sana, dia menjadi dosen di Universitas Putra Bangsa dan juga mengajar di FKIP jurusan biologi Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Tepat di bulan Maret 1988, anak kedua dari 13 bersaudara ini bergabung dengan Masjid Al-Falah Surabaya. Waktu itu dirinya langsung diserahi amanah sebagai Kepala SD Al-Falah. Tak berselang lama, dirintislah pendirian Taman al-Qur’an Kanak-Kanak. Melihat perkembangan lembaga pendidikan yang dipimpinnya, dia lantas didapuk sebagai Direktur Sekolah di Al-Falah.

Bersama beberapa rekannya, dirinya mencoba menggagas pendirian Konsorsium Pendidikan Islam (KPI). Pada saat yang bersamaan – tepatnya pada tahun pembelajaran 1989-1990, juga merintis berdirinya TK Al-Hikmah. Di sisi lain masih pula menggalang pendirian Koperasi Guru dan Karyawan di Lembaga Pendidikan al-Falah. Tak berselang lama, dia malah dipilih sebagai Ketua LPF tersebut. Pada tahun 1996 juga diminta untuk memimpin Lembaga Pendidikan Darussalam di Tropodo. Setelah empat tahun berjalan, malah diserahi sebagai Ketua Yayasan As-Salam. Dan pada tahun pembelajaran 2000-2001, memprakarsai pendirian SMP Al-Falah Tropodo.

Dari berbagai prestasinya di bidang pendidikan inilah, sehingga banyak penghargaan yang telah disematkan ke atas pundaknya. Pada penghujung Maret 2000, Yayasan Pembina Karier, Profesi dan Karya Indonesia memberi penghargaan Executive Professional Indonesia Award 2000. Sedangkan Yayasan Anugerah Profesi & Prestasi Indonesia, juga menyematkan Eksekutif Adhi Karya Prima Indonesia 2000. Masih di tahun yang sama, Pandu Citra Indonesia menganugerahinya dengan Citra Karya Insan Pendidikan Nasional 2000.

Setahun kemudian, dirinya digelari sebagai Generasi Pelopor Peduli Bangsa 2001, oleh Yayasan Gema Karya pembangunan – Himpunan Pembina Sumberdaya Manusia. Pemberian penghargaan itu diberikan di President Hotel Jakarta, tanggal 30 Maret 2001. Dan pada tahun 2002, Asean Info Sarana menyematkan Asean Best Executive Award 2002-2003. Serta pada tahun 2004 mendapatkan gelar International Professional of the year, oleh International Achievement Foundation.

Setelah melintasi ruang dan waktu yang begitu panjang dalam hidupnya, rupanya kehidupan desa kembali memanggilnya. Di sinilah dirinya berjuang dan mengabdi, untuk mengaplikasikan dari seluruh pengalaman yang pernah diraih dan dicitakannya. Namun tentu saja, kendala dan rintangan selalu saja datang menghadang. Salah satunya, adalah berupa watak kultural masyarakat desa. “Orang tua di sini belum intens dalam memikirkan pendidikan anak-anaknya. Mereka belum betul-betul menginginkan pendidikan yang baik buat mereka,” telisiknya.

Apalagi desa yang ditinggalkannya pada tahun 1957 ini, masih saja tak jauh berubah. Bahkan dari sisi keagamaan malah cenderung merosot. Dulu sewaktu dirinya masih bocah, sehabis Shubuh atau Maghrib dari rumah-rumah masih kerap terdengar suara orang mengaji. Tapi kini lantunan indah semacam itu sudah pada menghilang. Jumlah Mushalla memang bertambah banyak, akan tetapi sepi jamaah. “Sewaktu Bapak saya memegang Mushalla depan rumah, jamaahnya banyak sekali. Anak-anak yang mengaji pun juga melimpah,” paparnya membandingkan.

Rasa kekecewaan itulah, yang mendorongnya untuk langsung saja berkiprah. Dia melobi orang-orang sekitar agar menyerahkan pendidikan putra-putrinya di tempat ini. Setelah mereka berkumpul, lalu diadakanlah pembinaan-pembinaan. Namun sayangnya, para orang tua tak begitu serius memotivasi anak-anaknya. “Di sini keinginan agar anak itu pendidikannya jauh melebihi orang tuanya, masihlah belum kuat. Jika disuruh menyekolahkan anaknya, selalu saja berkilah uangnya dari mana? Sehingga banyak sekali anak lulusan SMP yang langsung dipaksa untuk kerja,” ucapnya bernada getir.

Dari desa kecil inilah, Soehadi Jami’in memotret pendidikan di Indonesia. Sebab mayoritas pendidikan yang ada, tak jauh beda dengan yang dialami di desa kelahirannya ini. Hanya sekolah-sekolah di kota besar saja, yang mampu memperoleh sarana-prasarana yang memadai. Sehingga sedikit sekali sekolah yang mempunyai kreativitas tinggi, inovasi secara terus menerus, serta memiliki daya saing yang kompetitif. “Tapi nggak usah menghabiskan energi buat menyalahkan diri sendiri. Sebab banyak pihak luar yang memang sengaja ingin menghancurkan moralitas dan keberadaan umat di sini. Dan mereka disokong dengan pendanaan yang cukup besar sekali,” kilahnya.

Itulah sebabnya, dirinya tak ingin latah-latahan bikin sekolah berstandar internasional. Dan kini banyak sekali yang terpancing, hanya gara-gara faktor gengsi semata. Padahal seharusnya, standar pendidikan kita itu adalah al-Qur’an dan hadits. Dengan mengkaji rumusan-rumusan al-Qur’an, maka antara otak dan hati akan jadi sinergis. “Dengan inilah, kita akan sanggup melahirkan generasi yang berotak Habibie dan berhati Hamka,” tandasnya. “Saya dulu ketika ditanya apakah status sekolahnya disamakan, diakui atau terdaftar? Maka saya katakan, insya Allah semua anak yang sekolah di sini statusnya diridloi,” jawabnya sambil tertawa lirih. Ded

Advertisements

Comments»

1. Rini - 24 Jan 2011

pak hadi, coba anak lulusan BOTAQ bs bikin sesuatu bersama2, ya setidaknya buat anak2 kita

Lia Chibi Chan - 3 Oct 2011

misalnya?

2. Lia Chibi Chan - 3 Oct 2011

Good……:)

3. asafak - 7 Oct 2012

alkhamdulillah sekarang anak lulusan Botaq s.c sudah pada berhasil dan menyebar di seluruh nusantara..

4. pandu - 14 Oct 2012

Innalillahi wa inna illaihi rojiun. Bapak Ir. Soehadi Djamiin telah meninggal dunia di RS Saeful Anwar Malang, 13 Okt 2012 20:30. Beliau dimakamkan di Desa Godong, Jombang 14 Okt 2012.. Semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT, dan diberi ampunan atas segala dosanya. Amien.

Selamat jalan Bapak, Orang Tua, Pembimbing dan Guru kita Ir. Soehadi Djamiin. Terimakasih atas bimbingan, pelajaran dan nasehat-nasehatnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: