jump to navigation

Habiburrahman el Shirazy 16 Feb 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Tokoh Nusantara.
Tags: , , , , , ,
trackback

Prahara Itu Telah Berbuah Berkah

Bagai terbangun dari mimpi, negeri ini tiba-tiba dikejutkan oleh seorang sastrawan muda, penyair sekaligus da’i, yang melesatkan karya-karya sastra islami. Dari jalinan lentik jemari Habiburrahman el Shirazy inilah, kita menjadi tersadar bahwa kreativitas dan karya-karya religius ternyata banyak digemari masyarakat.

Bayangkan saja, film Ayat-Ayat Cinta yang beredar di pasaran, telah menyedot sekitar tiga juta penonton dari seluruh wilayah Nusantara. Dari usia remaja hingga dewasa, terbukti telah menggemari film tersebut. Tak tanggung-tanggung, banyak orang-orang ternama di negeri ini juga menonton film tersebut. Sebut saja misalnya Presiden RI SBY, mantan Presiden RI B.J. Habibie dan Wapres Muhammad Jusuf Kalla. Untuk menonton film tersebut, masyarakat harus rela berlama-lama antre di gedung bioskop. Sukses itu kemudian langsung disusul dengan film terbarunya; Ketika Cinta Bertasbih – yang juga banyak digemari masyarakat penonton.

Dalam versi novelnya, juga menjadi best seller dalam waktu yang cukup singkat. Lebih dari setengah juta eksemplar buku tersebut ludes di pasaran. Uniknya, tak hanya masyarakat Indonesia saja yang menyukai novel tersebut, melainkan pula oleh masyarakat negeri Jiran seperti Brunei, Malaysia dan Singapura. Bahkan novel Ayat-Ayat Cinta telah dijadikan buku diktat untuk kuliah Novel Melayu dan Sastera Bandingan, di Faculty of Modern Languages and Communication, Universiti Putera Malaysia (UPM).

Sejatinya, nama  pria kelahiran Semarang 30 September 1976 ini, sudah dikenal sejak pada tahun 2004. Waktu itu karya-karyanya sudah bertebaran di toko-toko buku. Sebut saja misalnya Ayat Ayat Cinta (novel fenomenal yang telah dilayarlebarkan), Pudarnya Pesona Cleopatra (novelet), serta Di Atas Sajadah Cinta (kumpulan kisah teladan yang telah disinetronkan di Trans TV). Pada tahun 2005, kumpulan kisah teladan Ketika Cinta Berbuah Surga juga telah diterbitkan.

Lalu disusul dengan Mihrab Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih pada tahun berikutnya. Bahkan belum genap sebulan dipasarkan pada tahun 2007, novel KCB telah terjual 30 ribu eksemplar. Kini sudah ratusan ribu eksemplar ludes di pasaran. Karya yang telah siap dirampungkannya saat ini, adalah Dari Sujud ke Sujud, Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening dan Bulan Madu di Yerusalem.

Karuan saja Pengasuh Utama Pesantren Karya dan Wirausaha Basmalah Indonesia ini bertabur bintang penghargaan. Semisal Pena Award 2005, untuk kategori novel terpuji nasional oleh Forum Lingkar Pena (FLP). Juga The Most Favorite Book and Writer 2005, oleh Majalah Muslimah, serta IBF Award 2006 untuk kategori buku fiksi dewasa terbaik oleh IKAPIDKI Jakarta. Bahkan oleh Harian Republika dirinya dinobatkan sebagai salah satu Tokoh Perubahan Indonesia 2007, dengan predikat The Sound of Moral. Sementara Majalah Matabaca juga menjulukinya dengan sebutan Si Tangan Emas. Pada tahun 2008 kemarin, masyarakat penikmat karya sastra yang tergabung dalam wadah organisasi Insani Undip menobatkannya sebagai Novelis No. 1 Indonesia.

Kang Abik – demikian dirinya kerap dipanggil – merasa sangat bersyukur dianugerahi karunia sebagai seseorang yang aktif membaca dan menulis. Sebab dengan membaca, katanya, bisa merasakan dan dapat melipat ruang dan waktu. Sebab dia merasa hidup di pelbagai masa dan tempat. Di sisi lain, dirinya juga bisa menghayati dari beragam perasaan jiwa. “Itulah setetes perasaan yang saya dapat dari membaca. Tentu masih ada ribuan perasaan dan pengalaman lain dari kebiasaan membaca,” tuturnya bersahaja.

Sedangkan dari menulis, sambungnya, dirinya bisa merasakan beragam kenikmatan yang tak kalah dengan kenikmatan membaca. Sebab dengan menulis, dia merasa bisa menciptakan perasaannya sendiri. “Saya bisa mengajak jiwa saya semangat, bahagia, sedih, haru, bergetar dan lain sebagainya. Dan saya dapat pula mengajak orang lain merasakan apa yang saya rasakan tersebut,” tuturnya. “Bahkan dengan menulis, ketika jiwa melemah saya bisa mengajaknya untuk tetap optimis memandang terangnya cahaya. Jadi dengan menulis, saya seolah bisa mengobati diri saya sendiri ketika saya sedang sakit,” tambahnya.

Dari semua yang telah diraihnya itu, tentu saja tak seperti dengan membalik telapak tangan. Sebuah perjalanan panjang yang berkelok-liku, tentu saja telah dilaluinya. Bahkan pada awal perjalanan hidupnya itu, dilaluinya dari sebuah lorong yang sepi. Sebab dia mulai mengenal dunia tulis-menulis, sejak berada di bangku SD. Dan masa kecilnya lebih banyak dihabiskan di dalam lingkungan pesantren. Disamping belajar kitab kuning di ponpes Al Anwar, Mranggen, Demak di bawah asuhan KH. Abdul Bashir Hamzah, dia juga menempuh pendidikan di MTs Futuhiyyah 1 Mranggen. Pada saat-saat itulah, bakat kepenulisannya mulai terasah. Syi’ir-syi’ir dan bentuk sastra Arab lainnya, diakuinya telah banyak memberinya inspirasi. “Dari sanalah saya bermula berkenalan dengan dunia sastra,” tukasnya singkat.

Ketika menempuh studi di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) di Surakarta, dia mendirikan sebuah teater. Disamping menulis naskahnya, juga sekaligus menyutradarainya sendiri. Bersama Teater Mbambung, lantas dipentaskanlah teaterikal puisi yang berjudul Dzikir Dajjal di Gedung Seni Wayang Orang Sriwedari Surakarta. Pada tahun 1994, dirinya meraih Juara II lomba menulis artikel se-MAN I Surakarta. Juga  pernah menjadi pemenang I dalam lomba baca puisi religius tingkat SLTA se-Jateng, yang diadakan oleh panitia Book Fair’94 dan ICMI Orwil Jateng di Semarang. Termasuk menjadi pemenang pertama lomba pidato tingkat remaja se-eks Karesidenan Surakarta, yang diselenggarakan Jamaah Masjid Nurul Huda, UNS Surakarta.

Disamping itu, Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena ini di saat remaja juga pernah meraih juara I lomba pidato bahasa Arab se-Jateng dan DIY, yang diadakan oleh UMS Surakarta. Juga menjadi juara pertama lomba baca puisi Arab tingkat Nasional, yang diadakan IMABA UGM Jogjakarta. Pada tahun 1994-1995 juga pernah mengisi radio JPI Surakarta, tentang Syarhil Quran pada setiap Jumat pagi. Pernah pula menjadi pemenang terbaik ke-5 dalam lomba KIR tingkat SLTA se-Jateng, yang diadakan oleh Kanwil P dan K Jateng dengan judul tulisan; Analisis Dampak Film Laga Terhadap Kepribadian Remaja.

Pengalaman dan bakat inilah yang dibawanya saat belajar ke Al Azhar University. Itulah sebabnya, ketika disana Kang Abik juga menulis naskah drama dan sekaligus pula menyutradarainya. Diantara naskah yang pernah dipentaskannya; Wa Islama, Darah Syuhada, serta Sang Kyai dan Sang Durjana yang digubah dari karya Dr. Yusuf Qardhawi yang berjudul ‘Alim Wa Thaghiyyah. Saat kuliah di Al Azhar dia masuk ke Fakultas Ushuluddin jurusan Hadits. Di Kairo Mesir inilah, dirinya mulai mempelajari karya-karya para ulama’ yang terkenal dari berbagai dunia. Setelah selesai pada tahun 1999, lalu melanjutkan dan merampungkan Postgraduate Diploma (Pg.D) S2 di The Institute for Islamic Studies in Cairo – yang didirikan oleh Imam Al-Baiquri.

Pada saat menjadi mahasiswa di sana, dia memimpin kelompok kajian MISYKATI (Majelis Intensif Studi Yurisprudensi dan Kajian Pengetahuan Islam), serta aktif di Majelis Sinergi Kalam (Masika) ICMI Orsat Kairo – tepatnya sejak tahun 1998 hingga tahun 2000. Dan pemah pula menjadi koordinator sastra Islam ICMI Orsat Kairo selama dua periode; 1998-2000 dan 2000-2002. Tulisannya yang berjudul Membaca Insaniyyah al Islam, terkodifikasi dalam buku Wacana Islam Universal – yang diterbitkan oleh Kelompok Kajian MISYKATI pada tahun 1998. Dirinya juga dipercaya menjadi Ketua Tim Kodifikasi dan Editor Antologi Puisi Negeri Seribu menara Nafas Peradaban, yang diterbitkan oleh ICMI Orsat Kairo di tahun 2000.

Selain itu juga dipercaya duduk dalam Dewan Asatidz Pesantren Virtual Nahdhatul Ulama yang berpusat di Kairo. Dan sempat memprakarsai berdirinya Forum Lingkar Pena (FLP) dan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) di sana. Disamping itu pernah pula terpilih menjadi duta Indonesia untuk mengikuti Perkemahan Pemuda Islam Internasional Kedua, yang diadakan oleh WAMY (The World Assembly of Moslem Youth) selama sepuluh hari di kota Ismailia.

Dalam perkemahan itu, Kang Abik berkesempatan memberikan orasi berjudul Tahqiqul Amni Was Salam Fil ‘Alam Bil Islam (Realisasi Keamanan dan Peran di Dunia dengan Islam). Orasi tersebut terpilih sebagai orasi terbaik kedua, dari semua orasi yang disampaikan peserta perkemahan berskala internasional tersebut. “Pokoknya banyak sekali yang saya dapatkan ketika saya berada di Mesir,” tukasnya singkat.

Banyak sudah buku hasil karya terjemahan Kang Abik yang telah terbit. Seperti Ar-Rasul (GIP, 2001), Biografi Umar bin Abdul Aziz (GIP, 2002), Menyucikan Jiwa (GIP, 2005), Rihlah Ilallah (Era Intermedia, 2004), serta buku-buku lainnya. Cerpen-cerpennya banyak termuat dalam antologi Ketika Duka Tersenyum (FBA, 2001), Merah di Jenin (FBA, 2002), Ketika Cinta Menemukanmu (GIP, 2004) dan sebagainya. Sementara puisi-puisinya juga termuat dalam Antologi Puisi Dunia PPDKL (2002) dan Majalah Dewan Sastra (2002), yang diterbitkan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia dalam dua bahasa – Inggris dan Melayu. Bersama penyair dunia yang lain, puisi Kang Abik juga dimuat kembali dalam Imbauan PPDKL (1986-2002), yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia (2004).

Pada pertengahan Oktober 2002, Kang Abik baru pulang ke Indonesia. Sepulang dari Mesir, Kang Abik mulai banyak menulis cerita pendek dan kisah-kisah islami yang kemudian diterbitkan menjadi buku. Selain menulis, dirinya juga mencoba mengajar di Madrasah Aliyah Program Keagamaan (MAPK) MAN 1 Jogjakarta. Dirinya juga langsung diminta menjadi kontributor penyusunan Ensiklopedi Intelektualisme Pesantren; Potret Tokoh dan Pemikirannya. Buku ini terdiri atas tiga jilid dan diterbitkan oleh Diva Pustaka Jakarta pada tahun 2003. Setahun kemudian namanya tercatat sebagai dosen di Lembaga Pengajaran Bahasa Arab dan Islam Abu Bakar Ash Shiddiq UMS Surakarta.

Namun tanpa diduga tangan takdir begitu cepat berkelebat; dirinya mengalami kecelakaan di Magelang saat mau hendak pulang ke rumahnya di Semarang. Karena kaki kanannya patah, membuatnya tak bisa kemana-mana. “Jadi.. saya menulis Ayat-Ayat Cinta itu dalam kondisi lantaran memang tak bisa kemana-mana lagi. Seluruh waktu hanya saya pergunakan untuk menulis dan menulis,” tuturnya bernada getir.

Tapi kini nyatanya prahara itu telah berbuah berkah. Lewat karya-karyanya dia sangat dikenal di bumi Nusantara. Kini Kang Abik sepenuhnya ingin mendedikasikan dirinya di dunia dakwah dan pendidikan. Disamping lewat karya-karyanya, juga melalui Pesantren Karya dan Wirausaha Basmalah Indonesia.

Tampaknya, kehidupan Habiburrahman el Shirazy memang tak bisa lepas dari karya dan pesantren. Seperti yang diakuinya sendiri, bahwa setiap karyanya merupakan perpaduan antara sastra dan pesantren. “Rujukan saya adalah karya para ulama’ terdahulu. Pedoman menulis saya adalah al-Qur’an. Sebab dengan al-Qur’anlah, seseorang akan selamat dan sukses,” tandasnya.  Lantas apa resepnya menulis hingga memiliki karya yang agung semacam itu? “Pertama, harus punya niat yang kuat. Dan kiat yang lainnya, adalah menulis, menulis dan menulis,” tandasnya. Il

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: