jump to navigation

Drs. H. Suryadharma Ali, M.Si 16 Feb 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Tokoh Nusantara.
Tags: , , , ,
trackback

Memberi Manfaat Bagi Kemanusiaan dan Lingkungan

Drs. H. Suryadharma Ali, M.Si, memang kebilang sosok yang tenang, tegas dan cekatan. Itulah sebabnya, ketika dirinya usai dilantik menjadi Menteri Agama, langsung berkonsentrasi pada permasalahan pelaksanaan ibadah haji. Sebab waktu itu, kloter pertama memang sudah diberangkatkan ke tanah suci. “Kami bertekad pelaksanaan ibadah haji harus lebih baik dari tahun yang lalu,” ujarnya.

Ucapan  tersebut bukanlah merupakan isapan jempol semata, melainkan dibuktikannya lewat kenyataan. Sebab dirinya telah berjanji akan bekerja keras untuk dapat berbuat yang terbaik bagi jabatan barunya itu. Terbukti, pelaksanaan haji di tahun kemarin telah berjalan secara lancar. Baik dalam pelayanan akomodasi dan transportasi, maupun untuk katering atau masalah lainnya. Itulah yang membuat jamaah haji Indonesia dapat menunaikan prosesi ibadah haji dengan tertib. “Meskipun masalah pemondokan masih terasa agak jauh sampai 7 kilometer. Kami ingin nantinya yang terjauh adalah 4 kilometer,” pintanya.

Satu pesan penting dari Menag saat memberikan sambutan pada hari wukuf di Padang Arafah, agar umat Islam hendaknya tak hanya mengejar kehidupan duniawi saja. Antara kehidupan dunia haruslah diseimbangkan dengan kepentingan akhirat. “Sepulang ibadah haji, tingkatkan terus kualitas ibadah, dengan terus beramal, banyak-banyak berzakat, berwakaf dan bersedekah.  Sebab itulah cerminan dari sikap seorang haji mabrur,” tandasnya.

Dari jiwa sosial semacam itu, akan menumbuhkan sikap persaudaraan, kerukunan dan kesejukan. Dan sikap tersebut sangatlah dibutukan buat merekatkan persatuan dan kesatuan bangsa, sehingga masyarakat terhindar dari keretakan dan perpecahan. “Akar permasalahan disintegrasi bukanlah semata karena pengaruh globalisasi, tapi juga perpaduan dari tatanan kehidupan yang kurang stabil,” tegas Menag saat membuka Kongres II Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di Jakarta beberapa waktu lalu.

Selama ini, menurutnya, masalah disintegrasi bangsa sering hanya dilihat secara lahiriah semata. Gejolak sosial seperti itu biasanya dikaitkan dengan faktor ekonomi dan politik. Sehingga konflik yang berbau SARA hanya dianggap sebagai buah dari kesenjangan ekonomi, persaingan lahan pekerjaan, perebutan pengaruh dan dominasi satu suku terhadap lainnya. “Padahal jika dilihat dari kaca mata agama, persoalannya tak sesederhana itu,” jelasnya.

Dalam perspektif agama, kata Menag, penerapan sains dan teknologi yang tak terkendali dapat berpengaruh terhadap hilangnya nilai spiritual dan terjadinya alienasi. Keterasingan diri itulah, yang menyebabkan sebagian manusia modern melarikan diri dan bergabung dalam kelompok spiritual dan sekte keagamaan radikal. “Jadi.. kendati kelompok tersebut muncul akibat perkembangan sosial-politik yang membuat mereka termarginalisasi, namun itu juga bukanlah merupakan satu-satunya faktor,” tegasnya.

Menurutnya, masih ada faktor lain yang dapat melahirkan kelompok radikal. Seperti rendahnya tingkat pendidikan, kedangkalan pemahaman agama yang benar, kesenjangan ekonomi, serta ketidakmampuan sebagian anggota masyarakat untuk memahami perubahan yang terjadi demikian cepat. “Ini penting menjadi perhatian kita semua, dan perlu dilakukan upaya penanggulangan secara bersama-sama,” harapnya.

Meskipun menjadi Menteri Agama diakuinya tak sama ketika menjadi Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah yang pernah dijabatnya, namun lelaki kelahiran Jakarta 19 September 1956 ini terbilang cukup peka dalam mengantisipasi permasalahan yang tengah berkembang di masyarakat. Hal itu terasa wajar ketika melihat pengalaman masa lalunya. Sejak kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarief Hidayatullah Jakarta pada tahun 1977, dirinya memang dikenal sebagai mahasiswa yang sangat aktif dan cukup kreatif.

Setahun setelah menyelesaikan studinya di tahun 1984, dirinya bekerja di PT Hero Supermarket, Tbk. Hal itu dijalaninya hingga tahun 1999, dengan jabatan terakhirnya sebagai Deputi Direktur. Disamping itu juga aktif menjadi pengurus di berbagai organisasi ritel di Indonesia. Setelah itu dirinya mulai aktif ke dunia politik praktis. Itulah sebabnya, ayah empat anak ini pernah menjadi Ketua Komisi V DPR RI di tahun 2001 hingga 2004. Dan juga menjadi Bendahara Fraksi PPP MPR RI tahun 2004 hingga 2009.

Untuk mengatasai konflik yang berbau SARA di atas, Menag mengharapkan agar FKUB lebih memerankan tugasnya. Sebab  Forum Kerukunan Umat Beragama, adalah benteng paling kokoh untuk menjaga kerukunan umat beragama di tanah air.  “Semua agama mengajarkan kebaikan, keselarasan dan  keharmonisan. Tidak ada yang menyuruh umatnya untuk berbuat kejahatan,” ungkapnya.  “Jika ada perilaku sekelompok masyarakat yang melakukan kejahatan atas nama agama kepada kelompok lain, maka pemahaman agamanya jelas keliru,” simpulnya.

Menag menyatakan, anugerah kekayaan yang tak terhingga berupa keberagaman jika dikelola dengan baik,  akan dapat menjadi kekuatan dahsyat untuk membangun bangsa. Tapi sayangnya, persamaannya masih tak sebanyak keberagaman yang ada. Padahal dengan persamaan itulah, bangsa Indonesia bisa hidup harmonis dan saling berdampingan satu sama lain. “Mustahil membangun bangsa jika diantara komponen bangsa saling bermusuhan,” tandasnya.

Itulah sebabnya Menag berharap, agar lembaga pendidikan keagamaan seperti pondok pesantren juga memiliki peran sebagai pemersatu umat. Sebab akhir-akhir ini persatuan telah menjadi sesuatu yang sangat langka. Antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, justru lebih banyak bertikai dan berpecah-belah. “Pondok pesantren memiliki peran yang cukup besar bagi pembangunan bangsa,” tandasnya.

Yang tak kalah pentingnya, madrasah-madrasah juga diharapkan dapat terus mengembangkan dirinya. Sebab dinilainya madrasah saat ini kualitasnya masih berada di bawah sekolah umum. Padahal kini ada 6 juta siswa yang tengah belajar di madrasah. Mereka tersebar pada 40 ribu madrasah di seluruh Indonesia, yang 17,5 persennya belajar di madrasah negeri. “Oleh karenanya, pemerintah melalui Departemen Agama akan mewujudkan kesetaraan kualitas antara madrasah dengan sekolah umum,” tegasnya.

Menag mengatakan, sistem pendidikan di madrasah akan tetap mengacu kepada standar internasional. Baik itu mengenai kurikulumnya, infrastruktur, tenaga pendidik dan staf, termasuk manajemen dan keuangannya. Namun madrasah lebih unik, karena pelajaran agamanya lebih banyak dibandingkan dengan sekolah umum. “Memang banyak sekali madrasah yang dikelola oleh masyarakat secara langsung. Namun demikian, pemerintah tetap bertanggungjawab atas kualitas madrasah tersebut,” ujarnya.

Di sisi lain, Menteri agama juga mendorong bagi terciptanya kebebasan dalam melakukan pengkajian dan keterbukaan terhadap temuan-temuan baru. Termasuk di dalamnya kajian Islam. Akan tetapi dirinya mengingatkan, bahwa kebebasan itu dibatasi oleh tanggungjawab, yakni tanggungjawab terhadap umat Islam di negeri ini. “Kajian Islam yang dikembangkan di PTAI, hendaknya tak hanya meningkatkan pemahaman terhadap kajian Islam itu sendiri. Di sisi lain perlu menggali nilai-nilai Islam, dalam rangka meneguhkan kepribadian Muslim di tengah-tengah membanjirnya berbagai keyakinan, ideologi, aliran-aliran baru, gaya hidup dan sebagainya,” tuturnya.

Oleh karenanya dirinya berharap, agar ilmu agama Islam mampu menjadi payung bagi semua umat manusia tanpa mengenal ras, suku dan jenis kelamin. Ilmu Islam juga harus mempunyai kebebasan untuk berkembang mendampingi ilmu pengetahuan. Belakangan ini, banyak pihak yang menggunakan ilmu Islam untuk melakukan sebuah tindakan kejahatan seperti terorisme. “Maka Islam harus ditafsirkan sesuai dengan jalurnya, sehingga dapat diamalkan oleh semua umat Islam dengan benar,” terangnya.

Menag mengingatkan, bahwa kita perlu menyadari bahwa klaim besar Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin masih jauh dalam kenyataan. Kalaupun suatu saat umat Islam bisa mendominasi peradaban dunia, yang perlu diingat bahwa dengan besarnya Islam harus bisa menjadi payung bagi semua kalangan dan agama. Inilah tanggungjawab sebagai umat mayoritas. “Sebab misi Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin bisa menjadi kenyataan, manakala agama dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi seluruh manusia dan lingkungannya,” simpulnya. Il/berbagai sumber

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: