jump to navigation

Taufiq Ismail 4 Feb 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Tokoh Nusantara.
Tags: , , , ,
trackback

Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit

Masih ingat ketika Taufiq Ismail membacakan puisinya di televisi pasca lebaran kemarin? Pembacaan puisi yang berjudul Cerita Seorang Anak Yatim Piatu Selepas Pesta Ulang Tahun Tetangganya itu, benar-benar memukau pemirsa Metro TV. Tak hanya gaya baca Penyair Tiga Zaman itu saja yang memikat, namun kisah dalam puisi yang dibacakan pada acara ‘Konser Menembus Batas III: A Tribute to Taufiq Ismail’ itu pun juga sangat menyentuh nurani pemirsa.

Puisi itu sendiri sebenarnya menuturkan tema yang cukup sederhana; yakni tentang remaja sekolah yang tengah berulang tahun. Namun di situ tak ada acara tiup lilin yang berjumlah 16 belas batang, dan juga tak ada kado ulang tahun yang dihadiahkan untuknya. Sebagai gantinya gadis itu memberikan kado istimewa berupa orasi buat Mama tercinta, yang enam belas tahun lalu telah melahirkannya melalui bedah sesar. “Puisi itu bermula dari keresahan saya tentang tradisi ulang tahun yang terpengaruh budaya Barat. Terus terang, itu sangat mengganggu diri saya,” tukasnya lugas.

Yang sangat meresahkan penyair kelahiran Bukit Tinggi Sumatera Barat 25 Juni 1935 ini, adanya aspek budaya Barat yang ditiru begitu saja dan tanpa pernah berfikir terlebih dahulu. Semisal pemberian kado yang diberikan seorang Mama pada anaknya yang sedang berulang tahun. “Padahal yang paling tepat kan anak itu yang harus memberikan kado buat Mamanya, yang dengan susah-payah telah berjuang melahirkannya,” kilahnya.

Yang tak masuk akal lagi, sambung putra pasangan Buya Abdul Gaffar Ismail dan ustadzah Timur M. Nur ini, adalah acara tiup lilin dalam tradisi ulang tahun tersebut. Menurut budaya Amerika dan Eropa, sebelum meniup lilin terlebih dahulu niatkan dalam hati untuk mengharapkan sesuatu. Lantas kalau nyala lilin itu ditiup mati, maka keinginannya akan dikabulkan Tuhan. “Nah, ini kan tradisi yang jelas-jelas nggak masuk di akal sehat?” tandasnya. “Pada peradaban purbakala di Eropa dulu, orang percaya kalau lilin itu dapat menolak setan. Lalu budaya itu hinggap begitu saja pada kue ulang tahun. Jadi.. sebenarnya ini nggak ada sangkut pautnya sama sekali dengan Kristen. Dan itu juga tak cocok dengan ajaran Islam,” tambahnya menjelaskan.

‘Puisi ulang tahun’ itu, sebenarnya sudah ditulisnya sejak beberapa tahun silam. Tetapi saat itu belum berani membacakannya di depan publik. Pasalnya, dirinya menunggu bisa mempraktekkannya dalam keluarga sendiri. “Saya memang tak akan membacakannya di depan publik, sebelum anak saya sendiri memberikan kado ulang tahun pada ibunya. Sebab bagaimana saya akan mempertanggungjawabkannya kepada Allah nanti? Bukankah setiap perbuatan kita, kelak akan ditanya dan diadili di akhirat?” ungkapnya gemetar. “Saya telah membacakan puisi tersebut di depan ibu-ibu, remaja dan anak-anak. Mereka semua setuju dengan yang saya sampaikan itu. Bahkan banyak dari mereka yang menangis saat mendengarkannya,” tuturnya menceritakan.

Kiranya suami Esiyati ini, memang lebih gemar berekspresi lewat puisi. Sebab lantunan puisi itu dirasakannya jauh lebih mengena di hati khalayak, lantaran di sana ada suasana haru sehingga dapat memukau dan lebih meyakinkan. Maka dengan puisilah dia menyuarakan cinta, mengecam kezaliman dan menangis. Dan lewat puisi pula dirinya berdoa meratap kepadaNya. Sebab puisi baginya adalah dzikrullah. “Ini adalah merupakan pernyataan diri saya, yang dengan sepenuh-penuhnya saya suarakan lewat puisi,” ujarnya serius.

Jika penyair Muslim lain menyuarakan dakwah lewat puisinya secara transparan, Taufiq justru memilihnya untuk lebih tersimpan. “Zauq atau rasa agama yang saya warisi dari kedua orang tua, selalu menjadi inspirasi dan selalu saya masukkan ke dalam puisi-puisi saya,” ungkapnya berterus terang. “Jadi.. di sana banyak sentuhan tasawuf yang dikemas secara diam-diam. Seperti puisi tentang ulang tahun itu. Bukankah kecintaan terhadap seorang ibu, merupakan suatu keajaiban yang sangat luar biasa,” tambahnya mencontohkan.

Dalam kehidupan ayah Abraham Ismail ini, sebenarnya banyak profesi lain yang terbentang luas di hadapannya. Seperti jadi guru dan dosen, menjadi pedagang, karir politik, atau menjadi seorang kyai. Dan dirinya sudah mencoba dari berbagai kemungkinan itu. Terbukti dirinya pernah tercatat sebagai dosen Institut Pertanian Bogor (1962-1965), dosen Fakultas Psikologi UI (1967), Sekretaris DPH-DKI (1970-1971) dan manager hubungan luar PT. Unilever Indonesia (1978). “Namun yaa.. ternyata pilihan saya tetap jatuh pada puisi. Sebab saya merasa lebih cocok dan sreg untuk mengungkapkan suara jiwa saya lewat puisi,” simpulnya sambil tertawa lirih.

Keinginan berpuisi itu tumbuh semasih dirinya duduk di bangku SMA di Pekalongan Jawa Tengah. Bahkan waktu itu puisi-puisinya sudah dimuat di majalah Kisah dan Mimbar Indonesia. Ketika menjadi penjaga perpustakaan Pelajar Islam Indonesia di Pekalongan, kegemarannya menulis puisi makin menjadi-jadi. Sebab di perpustakaan tersebut, begitu leluasa dirinya melahap karya-karya Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, hingga karya William Saroyan dan Karl May. Namun tentu saja tak hanya karya sastra saja yang dibacanya, melainkan pula buku-buku agama, politik dan sejarah.

Tak salah jika waktu itu – tepatnya pada tahun 1956–1957, Taufiq memperoleh beasiswa program pertukaran pelajar American Field Service International Scholarship. Dan dia termasuk angkatan pertama dari Indonesia, yang mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Wisconsin, AS. Di sanalah dirinya mengenal karya Robert Frost, Edgar Allan Poe dan Walt Whitman. Termasuk pula membaca novel Hemingway The Old Man and The Sea yang sangat disukainya.

Kegemaran membacanya itu, memang terkondisikan sejak kecil. Sebab dia memang hidup pada lingkungan keluarga yang suka membaca. Taufiq merasa bersyukur dilahirkan dari seorang ayah yang Kyai pejuang dan seorang ibu yang sangat fasih dalam menafsiri al-Qur’an. Di perpustakaan keluarganya itulah, dirinya mulai dan terbiasa membaca berbagai buku. “Tanpa buku, saya kira tidak mungkin saya jadi pengarang seperti sekarang ini,” ucapnya bersyukur.

Setelah lulus SMA, melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran Hewan & Peternakan Universitas Indonesia di Bogor dan lulus tahun 1963. Semasa kuliah dia aktif dalam berbagai kegiatan. Pernah pula menjadi Ketua Senat Mahasiswa FKHP UI (1960–1961), serta Wakil Ketua Dewan Mahasiswa (1960–1962). Di tahun 1962 inilah dirinya mulai berkarir, dengan menjadi guru Ilmu Pengantar Peternakan di Pesantren Darul Fallah, Ciampea. Setahun kemudian juga mengajar sebagai guru bahasa di SMA Regina Pacis Bogor hingga tahun 1965. Taufiq juga tercatat sebagai asisten dosen Manajemen Peternakan Fakultas Peternakan, Universitas Indonesia Bogor dan IPB (1961-1964).

Pada tahun 1964 itulah, dia dipecat dari pegawai negeri dan batal dikirim untuk studi lanjutan ke Universitas Kentucky dan Florida. Pasalnya, dirinya turut menandatangani Manifes Kebudayaan yang dinyatakan terlarang oleh Presiden Soekarno. Dua tahun kemudian, bersama Mochtar Lubis, P.K. Oyong, Zaini dan Arief Budiman mendirikan Yayasan Indonesia – yang kemudian melahirkan majalah sastra Horison. Taufiq Ismail juga termasuk salah seorang pendiri Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Taman Ismail Marzuki (TIM) dan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ).

Sejak tahun 1966, Ketua Umum Lembaga Kesenian Alam Minangkabau 1985 ini juga menjadi kolumnis Harian KAMI hingga tahun 1970. Pada tahun 1971–1972 mengikuti International Writing Program, University of Iowa, Iowa City, Amerika Serikat. Hal yang sama juga berulang pada tahun 1991–1992. Setahun kemudian dia belajar pada Faculty of Languange and Literature, American University in Cairo, Mesir. Lantaran pecah Perang Teluk, dirinya pulang kembali ke Indonesia sebelum selesai studi bahasanya.

Pada tahun 1993 dia diundang menjadi pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur Malaysia. Atas kerja samanya dengan para musisi sejak 1974 – terutama dengan Himpunan Musik Bimbo, Chrisye, Ian Antono dan Ucok Harahap, Taufiq telah menghasilkan sebanyak 75 lagu. Dirinya pernah mewakili Indonesia baca puisi dan festival sastra di 24 kota di Asia, Amerika, Australia, Eropa dan Afrika. Puisi-puisinya pun telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, Sunda, Bali, Inggris, Prancis, Jerman, Rusia dan Cina.

Selain sebagai sastrawan, dirinya juga aktif menerjemah buku. Karya terjemahan yang telah dihasilkannya; Banjour Tristesse yang merupakan terjemahan novel karya Francoise Sagan (1960), Cerita tentang Atom terjemahan karya Mau Freeman (1962), serta Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam (dari buku The Reconstruction of Religious Thought in Islam, M. Iqbal), yang diterjemah bersama Ali Audah dan Goenawan Mohamad (1964).

Sementara karya-karya puisinya yang telah terbit; Manifestasi (bersama Goenawan Mohamad, Hartojo Andangjaya, et.al. 1963), Tirani (1966), Benteng, (1966), Puisi-puisi Sepi (1971), Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin dan Langit (1971), Buku Tamu Museum Perjuangan (1972), Sajak Ladang Jagung (1974), Kenalkan, Saya Hewan (1976), Puisi-puisi Langit (1990), Tirani dan Benteng – cetak ulang gabungan (1993), Prahara Budaya (1995), Ketika Kata Ketika Warna, antologi puisi 50 penyair dalam rangka memperingati ulang tahun ke-50 RI, (1995), Seulawah – Antologi Sastra Aceh (1995), Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1998), dari Fansuri ke Handayani (2001), Horison Kakilangit (2001), serta Horison Sastra Indonesia – empat jilid – (2002).

Sedangkan penghargaan yang pernah diperolehnya meliputi; Augerah Seni dari Pemerintah RI (1970), dua kali jadi penyair tamu di Universitas Iowa, AS (1971-72) dan (1991-92), Culture Visit Award Pemerintah Australia (1977), Pengaranag tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur (1993), South East Asia Write Award dari Kerajaan Thailand (1994), Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa (1994), SEA Write Award (1997), Sastrawan Nusantara dari Negeri Johor, Malaysia (1999) dan Doctor honoris causa dari Universitas Negeri Yogyakarta (2003).

Dalam menyambut sepuluh tahun Kebangkitan Nasional dan menyambut 55 tahun kiprahnya sebagai penyair Indonesia, Taufiq Ismail menerbitkan buku Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit. Buku ini terdiri empat jilid: jilid pertama merupakan himpunan puisinya tahun 1953-2008, jilid kedua dan ketiga berisi himpunan tulisannya tahun 1960-2008, dan jilid keempat berupa himpunan lirik lagu, serta buku Rerumputan Dedaunan (Antologi Puisi Terjemahan Penyair Amerika). Il

Advertisements

Comments»

1. muh.mughis.al papua - 4 Feb 2010

Aku adalah ombak
Aku dan pantai adalah sepasang sahabat
Angin menyatukan dan memisahkan kami

Aku datang dari atas temaram
Untuk menghamburkan perak buihku
Dengan emas pasirnya

Kusejukkan jiwa yang membara
Dengan kelembabanku

Menjelang fajar kusambut semangat jiwa sahabatku
Disenja hari kusambut kerinduan
Saat ia memelukku
Dan ia berkata kaulah sahabat sejatiku

decazuha - 16 Feb 2010

Jangan jadikan dirimu buih
Jadikan gelombang dalam jiwamu
Aruskan anginmu menggiring ombakmu
Temukan muara hakikat kehidupan
Dalam ceruk bening ruhani
Yang selalu bergetar dalam hening qalbu
Temukan dirimu
Menyatu
Dalam keabdaian
Wadah kesucian

2. Ridha Nori Irianto - 12 Feb 2010

bagiku lilin tak bermakna
suluh juga tidak
hanya hidup sesudah mati
ingin kucari
ingin kunikmati
dalam dekapan kasih tak bertepi

adalah nur yang kuingin
nur sejati
tengah malam menjelang pagi
carilah kawan
carilah dia
sahabat setia
tiada banding segala rasa

decazuha - 16 Feb 2010

Bagaimana kita kan temukan teman sejati, jika kita masih saja menganggap diri sendiri adalah musuh?

3. harjumaini nst - 2 Jun 2010

wah bagus bangt puisi2’a


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: