jump to navigation

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) 4 Feb 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Tokoh Nusantara.
Tags: , , , , , , ,
trackback

Guru Bangsa dengan Sejuta Talenta

Kematian KH. Abdurrahman Wahid di penghujung Desember tahun kemarin, telah menggulirkan air mata duka yang menggenang sepanjang jalan di tanah air. Sebab dirinya bukanlah semata milik warga Nahdliyin, melainkan pula milik bangsa Indonesia. Dia milik semua golongan, milik semua etnis, milik semua ras, dan milik semua agama. Itulah sebabnya, semua warga dari berbagai golongan dan beragam agama, turut menghantarkan kepergian Guru Bangsa itu dalam menuju pertemuan abadi denganNya.

Gemuruh penghormatan yang mengiringi kepergiannya tersebut, terasa lumrah jika kita menengok jejak-jejak perjuangan yang dilakukannya selama ini. Dalam sepanjang hidupnya, pria yang lebih karib dipanggil Gus Dur ini telah sepenuhnya mengabdikan dirinya demi membangun masa depan bangsa. Segenap potensi, tenaga, waktu, ide-ide pemikiran dan sepak terjang jerih payahnya, senantiasa disedekahkan buat perbaikan negeri ini dan juga dunia.

Tak letih-letihnya dirinya memperjuangkan ketertindasan rakyat, mengerem lajunya kesewenang-wenangan dari tangan perkasa kekuasaan, menumbuhkan tali persaudaraan antar negara, membangun jaringan lintas agama, membentangkan kain perdamaian di seantero dunia, merajut eratnya pertalian multikultural, menjunjung keterhimpitan hak-hak minoritas, memperjuangkan kebebasan berpendapat, serta menyelesaikan persoalan-persoalan intoleransi dan konflik antar etnis. Gus Dur bak menorehkan semua warna dalam sebuah kanvas kebhinekaan, hingga menjadi sebuah lukisan Indonesia Raya yang keindahannya teramat menakjubkan.

Gus Dur tak melakukan penegakan kebhinekaan dengan berpanjang-panjang pidato di atas podium, namun langsung melalui tindakan dengan langkah nyata yang mempersempit jurang perilaku diskriminatif dan sikap intoleransi. Dia tegakkan semangat kesetaraan dan kepedulian terhadap kelompok-kelompok yang terpinggirkan. Dia kembangkan bentuk-bentuk dialog perbedaan pendapat dengan cara yang sangat bersahabat. Dia berteman dengan orang-orang yang tak sealiran, dari beragam golongan dan etnis yang berlainan.

Dan yang paling menawan, dirinya justru melukis semua itu sambil menebar guyonan. Joke-jokenya yang cerdas dan segar, selalu membuat dunia tertawa. Tak terhitung berapa jumlah anekdot yang telah dilontarkannya. Hal itu seakan menandakan, bahwa meskipun umatnya dalam kondisi sedih, terpojok, menderita, teraniaya, atau apapun persoalan yang menghimpitnya, Gus Dur menyerukan agar menghadapi itu semua dengan jiwa yang riang gembira – agar persoalan yang ada tak menjadi semakin ruwet.

Sesungguhnya, Gus Dur tak mengajak kita menafikan problematika. Sebab dalam hidupnya, suami Hj. Sinta Nuriah ini terkenal paling serius dalam menghadapi setiap persoalan bangsa. Sebagai guru yang telah banyak memberikan pelajaran agung buat bangsanya, dirinya tak hanya mengajarkan bagaimana hidup demokratis, damai dan rukun antar sesama, tapi juga kerap pula memberikan teka-teki buat segenap anak bangsanya. Dari teka-teki itulah, kita selalu dibuat kreatif untuk memecahkan, mencari kunci dan solusinya. Dan ketika semua orang sudah merasa menthok tak menemukannya, Gus Dur malah dengan enteng menjawabnya dengan adagium; Ah, Begitu Saja kok Repot! Itulah sebabnya Gus Dur tak hanya dikenal sebagai sosok yang pluralis dan humanis, tapi juga sekaligus humoris.

Sebagaimana nama yang diberikan kepadanya sewaktu kecil – Abdurrahman Ad-Dhakil, ketika dewasa Gus Dur memang beranjak menjadi Sang Penakluk; pendobrak berbagai kesakralan dan kebekuan. Pintu istana yang selama ini tertutup rapat dengan jeruji-jeruji pagar yang menjulang, dia buka lebar-lebar pintunya dan mengubahnya menjadi sebuah istana rakyat. Kebebasan pers dan berekspresi yang selama ini terasa terkekang, telah pula dibukanya hingga setiap anak bangsa bisa bebas bersuara. Demokrasi benar-benar telah dapat dinikmati oleh semua orang. Sayangnya, kita justru seakan menjadi siswa “Taman Kanak-Kanak” yang tak beranjak pintar untuk mengeja setiap goresan pena yang ditorehkannya. Sehingga alam demokrasi malah kita isi dengan berbagai bentuk pertengkaran dan perdebatan yang tiada berujung.

Yang pasti, dengan berpulangnya mantan Presiden RI ke-4 itu ke hadapan Ilahi, kita merasa telah benar-benar kehilangan sebuah ensiklopedi hidup. Sebab dia telah banyak menelorkan karya-karya intelektual yang mengagumkan. Sebagai Ulama’ pembaharu, dirinya telah mampu mempersatukan antar umat beragama di Indonesia. Karena rasa cintanya terhadap indahnya sebuah perdamaian, maka dibukalah wawasan tentang pentingnya arti sebuah kemajemukan dan keberagaman. Dialah sosok pemimpin yang berdiri di atas semua golongan. Dia bahkan berani mengambil langkah-langkah yang tak populer, dengan melakukan pembelaan terhadap kaum minoritas dan membela orang-orang yang terpinggirkan.

Itulah sebabnya, tak hanya Indonesia saja yang merasa kehilangan Gus Dur. Dunia internasional pun merasakan situasi batin yang sama. Sebab kiprahnya di dunia internasional selama in juga tak kepalang banyaknya. Ide-idenya yang humanis dan pluralis, telah banyak menginspirasi para tokoh dunia. Pikirannya yang terbuka, anti-diskriminasi dan menghargai keberbedaan, telah membuka jendela dunia tentang betapa indahnya nikmat perdamaian. Betapa damainya jika setiap orang mau menjalin kerukunan hidup, mengembangkan sikap saling bertoleransi, dan saling menghargai antar sesama manusia. Bagi umat Islam sendiri, Gus Dur telah mengajarkan sikap moderat, rahmatan lil ‘alamin, dan universalisme Islam dalam kehidupan berbangsa serta bernegara.

Semuanya itu telah diperjuangkan Gus Dur demi menyibak dunia baru. Terbukti dirinya pernah aktif di forum-forum internasional dengan beragam urusan. Pada tahun 1994, disamping tercatat sebagai penasehat pada International Dialogue Project for Area Study and Law, Den Haag, Belanda, juga sebagai Presiden di World Conference on Religion and Peace (WCRP), New York, Amerika Serikat hingga tahun 1998. Di tahun 1994 itu pula, Gus Dur tercatat sebagai pendiri sekaligus anggota Shimon Perez Center for Peace, Tel Aviv, Israel. Sebelumnya, tepatnya pada tahun 1980-1983, dia pernah menjadi Dewan Juri pada The Aga Khan Award for Islamic Architecture.

Pada tahun 2002, dirinya juga menjadi Presiden di Association of Muslim Community Leaders (AMCL), New York, Amerika Serikat, serta menjadi Anggota Dewan Penasehat Internasional pada International and Interreligious Federation for World Peace (IIFWP), New York, Amerika Serikat. Hingga sang ajal menjemput, dirinya masih resmi memiliki tanda keanggotaan pada lembaga tersebut.

Setahun kemudian, Gus Dur menjadi Presiden Kehormatan pada International Islamic Christian Organization for Reconciliation and Reconstruction (IICORR), London, Inggris. Di tahun yang sama juga menjadi Anggota Dewan Internasional – bersama Mikhail Gorbachev, Ehud Barak and Carl Bildt) – pada International Strategic Dialogue Center, Universitas Netanya, Israel. Di tahun ini pula, dirinya tercatat sebagai Presiden pada Non Violence Peace Movement, Seoul, Korea Selatan.

Atas kepemimpinnannya di dalam negeri dan sepak terjangnya di dunia tersebut, maka wajar jika Gus Dur memperoleh gelar kehormatan Honoris Causa dari berbagai lembaga pendidikan dunia. Pada tahun 1999 pemberian gelar Doktor Honoris Causa datang dari Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand. Di tahun 2000 mendapatkan Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Thammasat University, Bangkok, Thailand. Di tahun ini pula dirinya juga dianugerahi Doktor Kehormatan dari Twente University, Belanda dan juga Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora dari Pantheon Sorborne University, Paris, Perancis, serta Doktor Kehormatan dari Jawaharlal Nehru University, India.

Pada tahun 2001 memperoleh Doktor Kehormatan dari Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand. Di tahun 2002 mendapat Doktor Kehormatan dari Soka Gakkai University, Tokyo, Jepang (2002). Setahun kemudian juga mendapat Doktor Kehormatan dari Sun Moon University Seoul Korea Selatan, Doktor Kehormatan bidang Hukum dari Konkuk University Seoul Korea Selatan, serta Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan dari Netanya University, Israel.

Disamping itu, Gus Dur juga pernah mendapatkan beragam penghargaan dari berbagai negara lainnya. Seperti dari Islamic Missionary Award, Pemerintah Mesir (1991), memperoleh Magsaysay Award, Manila, Filipina (1993), Paul Harris Fellow, The Rotary Foundation of Rotary International (2000), Ambassador of Peace, International and Interreligious Federation for World peace (IIFWP), New York, Amerika Serikat (2000), Public Service Award, Universitas Columbia, New York, Amerika Serikat (2001), Global Tolerance Award, Friends of the United Nations, New York, Amerika Serikat (2003), World Peace Prize Award, World Peace Prize Awarding Council (WPPAC), Seoul, Korea Selatan (2003), Dare to Fail Award, Billi PS Lim (penulis buku paling laris “Dare to Fail”), Kuala Lumpur, Malaysia (2003), The Culture of Peace Distinguished Award (2003), serta International Culture of Peace Project Religions for Peace, Trento, Italia (2004). Itu belum lagi ditambah dengan sederet penghargaan dari dalam negeri sendiri.

Gus Dur memang sosok yang memiliki sejuta talenta; seorang ulama’, sebagai budayawan,  politisi, negarawan, ilmuwan, seniman, pejuang kemanusiaan, tokoh penegakan HAM, pengayom kaum minorotas, pelindung rakyat, pencinta kaum miskin, pejuang kaum tertindas, dan seabrek sebutan yang bisa kita sematkan di pundaknya. Kebanyakan pemimpin memang selalu mengisi sejarah, tapi Gus Dur tak hanya mengisinya tapi justru mampu mencetak sejarah. Dia tak hanya seorang pemimpin yang memiliki karakter, melainkan pula mampu melakukan transformasi nilai melalui komitmen dan langkah nyata. Maka sangatlah tepat jika di pundaknya pula disematkan penghormatan sebagai Guru Bangsa.

Dari sosoknya yang egaliter, penuh percaya diri, supel dalam bergaul, toleran dan mencintai keadilan, membuatnya senantiasa melakukan gerakan moral kebangsaan. Maka dia selalu berdiri di tempat yang bisa menjaga keseimbangan, agar perahu bangsa tak oleng terantuk karang dan lantas tenggelam. Itulah sebabnya, dirinya tak segan-segan menggedor kesadaran substansial umatnya. Dengan prinsip rahmatan lil’alamin, Gus Dur mampu dan berani melawan otoritarianisme kekuasaan, ketidakadilan, dan juga kesewenang-wenangan.

Tapi apapun yang telah diperjuangkannya, Guru Bangsa itu kini telah meninggalkan kita semua. Dan beribu-ribu halaman terasa tak cukup untuk melukiskan kepribadian, sepak terjang dan karya-karyanya. Sebab telah begitu sempurna kisah hidup yang telah dilakoninya. Dari setiap kata dan tindakannya, adalah merupakan pelajaran agung buat kita selaku anak bangsa. Dirinya laksana lentera zaman yang selalu menyala menerangi kegelapan umatnya.

Gus Dur telah mewakafkan dirinya untuk bangsa yang dicintainya. Ketokohannya jauh menembus wilayah batas ruang dan sekat-sekat waktu. Ide-ide inovasinya adalah inspirasi yang telah menyinari kekelaman bangsa ini.

Meski Greg Barton telah meretas Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid, namun sosok Gus Dur sepenuhnya belum tereja. Sebab Gus Dur adalah buku itu sendiri yang takkan pernah tuntas dibaca.

Gus Dur secara fisik memang telah pergi. Diiringi doa dan airmata, meninggalkan segala yang dicintai dan semua yang mencintai. Mewariskan jejak-jejak keteladanan yang perlu ditapaktilasi. Namun pada hakikatnya, Gus Dur masih hidup. Hidup di sini, di dalam hati. Il

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: