jump to navigation

Ir. H. Abdulkadir Baraja 4 Feb 2010

Posted by decazuha in Tokoh Nusantara.
Tags: , , , , ,
trackback

Secercah Sinar Kebangkitan Pendidikan Islam

Buah jatuh, memang tak jauh dari pohonnya. Ungkapan itu terasa pas untuk menggambarkan hubungan Ir. H. Abdulkadir dengan ayahandanya Muhammad Baraja. Abah, demikian dirinya biasa memanggil, senantiasa menanamkan semangat berjuang, berdakwah dan belajar yang tinggi. Sejak kecil dirinya digembleng ghirah keagamaannya, untuk selalu taat beribadah dan memiliki rasa kepedulian terhadap perkembangan dunia Islam.

Satu hal yang selalu ditekannya berulang-ulang, adalah membaca buku perjuangan para Sahabat, Ikhwanul Muslimin dan tokoh-tokoh Islam lainnya. Seusai membaca buku-buku tersebut, sang Abah lalu mengajaknya berdiskusi dari hasil membacanya. “Setiap hari saya harus menyediakan waktu untuk berdiskusi dengan Abah. Disamping tentang buku-buku yang telah saya baca, juga mengenai masalah-masalah keseharian,” tuturnya mengenang.

Dari kedisiplinan dan sikap keras Abahnya itulah, dirinya merasa mendapatkan banyak pelajaran yang bisa dipetiknya – terutama tentang kepemimpinan Islam. “Sering sekali Abah menanyakan, bagaimana seandainya saya menjadi tokoh dalam buku yang saya baca. Apa yang mesti saya lakukan, dengan berbagai persoalan yang menjerat dalam kondisi semacam itu?” ungkap pria kelahiran Solo 11 Juni 1945 ini mengkisahkan.

Dari kebiasaannya berdiskusi inilah, kelak akan menjadikan dirinya sebagai orang yang biasa berfikir secara analitik dan sistematik, serta memiliki rasa kepedulian yang sangat tinggi terhadap persoalan-persoalan umat. Semangat itu menjadi gemuruh gelombang yang indah dalam dirinya, tatkala dibungkus dengan cinta kasih umminya Ruqayah Bakthir. Dengan balutan lembut belaian sayang ibundanya, Abdulkadir kecil tumbuh menjadi remaja santun yang penuh enerjik.

Ketika sekolah di SMP Taman Siswa Praban Surabaya pada tahun 1961, Abdulkadir Baraja mulai aktif di tubuh PII (Pelajar Islam Indonesia). Organisasi kepemudaan inilah yang telah mengkader dan menempa dirinya, hingga menjadi pemuda yang memiliki semangat jihad yang agung. Ketika duduk di bangku SMA Negeri 2 Surabaya, dirinya malah terpilih sebagai Sekretaris Umum PII Cabang Surabaya Utara. Di saat itu juga aktif pula di organisasi pelajar Al-Irsyad. Bahkan di organisasi pelajar ini, sempat menjadi Ketua Umum serta mengemban amanah di Departemen Pengkaderan Pelajar Al-Irsyad Pusat.

Maka wajar saja, jika dikemudian hari dikenal sebagai sosok organisatoris yang pemberani. Ketika di SMA, anak keempat dari 7 bersaudara ini pernah melakukan sebuah terobosan yang berisiko tinggi. Bersama sekelompok siswa dari 3 SMA besar di Komplek Wijaya Kusuma (SMAN 1, SMAN 2, dan SMAN 5), Abdulkadir turut membidani pembentukan Jamaah Pelajar Islam Wijaya Kusama. Lalu mereka – sekitar 50 anak – mengadakan shalat Jum’at bersama di bangsal sekolah.

Karuan saja berbagai rintangan, baik dari dalam maupun dari luar, segera datang menghadang. Terutama yang dari IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia) yang merupakan underbouw PKI, dan GSNI (Gerakan Siswa Nasional Indonesia) undergroundnya PNI. Bagitupun yang datang dari kalangan guru-guru yang berhaluan kiri. “Apalagi PII memang berseberangan dengan IPPI dan GSNI. Namun alhamdulillah, makin lama jamaah Shalat Jum’at semakin banyak. Bahkan sekolah-sekolah lain juga mulai menirunya,” ucapnya bernada syukur.

Padahal waktu itu, kehidupan keberagamaan umat Islam benar-benar dalam situasi yang genting. Jangankan mengadakan kegiatan dakwah yang tampak semacam itu. Sedangkan untuk melakukan shalat lima waktu saja, mereka harus cari tempat yang tak diketahui temannya.  “Para remaja saat itu merasa heran, kalau melihat temannya sedang melaksanakan shalat. Kata mereka, lha masak sudah sekolah menengah kok masih shalat?” ujarnya dengan nada pedih.

Ledekan semacam itu sudah menjadi menu rutin bagi anak-anak PII. Sebab kaum remaja waktu itu merasa lebih bergengsi kalau bisa hidup “serba Belanda”. Di sisi lain, kehidupan model komunis tengah menjadi pola tradisi masyarakat. Semua sarana hiburan yang ada, memang telah dikuasi orang-orang komunis. Dalam lakon-lakon yang dipentaskan, sudah biasa kalau mereka melecehkan guru ngaji dan mencaci-maki para Kyai. “Lha bayangkan, ketika ada orang meninggal dan disuruh memanggilkan Kyai, yang didatangkan malah kambing kibas. Itu sindiran terhadap kaum Kyai yang suka berpakaian putih-putih,” kisahnya sambil menghela nafas berat.

Meskipun demikian, suami Lubna ini tak pernah patah arang. Darah dakwah yang mengalir dari Abahnya terasa mendidih di sekujur tubuhnya. Langkah dakwah lewat jalur pendidikan dan kepemudaan terus dilakukannya. Saat menjadi mahasiswa di ITS Surabaya, dirinya aktif menggerakkan kegiatan di berbagai masjid kampus. Kegiatan tersebut masih terus dijalankannya, hingga di tahun 1974 dirinya diangkat menjadi Asisten Dosen di almamaternya tersebut.

Pada saat itulah, dosen elektro ITS ini mulai bergabung di Masjid Al-Falah Surabaya. Saat dipilih sebagai salah seorang pengurus di sana, kembali pengusaha di berbagai bidang ini melancarkan dakwah di bidang sosial dan pendidikan. Di tahun 1979 bersama rekan-rekannya berhasil mendirikan Taman Kanak-Kanak Al-Falah. Dari sanalah kemudian berkembang dengan pendirian SD, SMP dan SMA Al-Falah. Di kemudian hari, lembaga pendidikan ini terbukti menjadi icon kemajuan sekolah Islam.

Kalau bangsa Indonesia ingin serius keluar dari krisis multi dimensi, menurutnya, maka mutlak harus dibangun sebuah pendidikan yang berkualitas. Dan membangun pendidikan bagi anak-anak Islam, baginya sangatlah penting. Sebab dengan posisi sebagai mayoritas, membangun mereka sama dengan membangun bangsa. “Membiarkan mereka bodoh dan pendidikannya terlantar, itu sama saja artinya dengan menelantarkan bangsa,” tandasnya.

Padahal dari sebagian besar sekolah-sekolah Islam, kebanyakan masih berlabelkan substandar. Sementara sekolah-sekolah di luar Islam, sejak 50 tahun lalu mereka sudah standar. “Itulah sebabnya kami mendirikan sekolah Islam, yang menjadi model dan layak dicontoh sekolah-sekolah lainnya,” tukasnya. “Kami selalu berupaya agar sekolah-sekolah ini standar atau setidaknya mendekati standar,” tegasnya.

Untuk membangun pendidikan yang berkualitas, katanya, harus ditekankan pada pengembangan sumberdaya manusianya. Bersamaan dengan itu, harus disiapkan pula program yang bagus. “Jadi.. bukan membangun infrastrukturnya dulu. Infrastruktur itu cuma kosmetik semata. Tanpa itu juga bisa. Sedangkan SDM atau guru itu nilainya 65-70 persen. Sisanya baru infrastruktur dan lainnya,” tuturnya serius.

Bersamaan dengan upaya tersebut, Ketua Dewan Pendidikan dan Pengajaran Yayasan Perguruan Al-Irsyad Surabaya ini, terus pula mencari jalan untuk mendapatkan dana guna pengembangan dakwah di bidang sosial. Dari serambi masjid yang sama, di tahun 1987 dirinya bersama H. Abdul Karim berhasil pula mendirikan YDSF (Yayasan Dana Sosial Al-Falah). Awalnya, sehabis Shubuh Direktur Lembaga Pendidikan Al-Falah Tropodo 1 dan 2 ini sering berkeliling-keliling. Dari sanalah kemudian diketahui, masih banyak sekali masjid-masjid yang berdiri secara memprihatinkan. “Waktu itu saya berpikir, seandainya 50 ribu warga Surabaya mau mengulurkan derma seribu rupiah saja secara rutin, maka setiap bulannya akan terkumpul dana sebesar 50 juta rupiah. Dan ini sudah cukup untuk membiayai masjid-masjid tersebut,” ujarnya.

Maka dengan mengandalkan mesin ketik biasa, Ketua I Bidang Pendidikan Yayasan Masjid Al-Falah Surabaya ini mulai membagikan brosur donasi Rp. 1.000,-. Dari seluruh formulir yang disebar kepada jamaah masjid Al-Falah, yang kembali cuma lima biji. Lalu dicoba untuk ditebar di tiap traffic light dan rumah-rumah orang kaya di Jl. Darmo. Yang kembalipun juga hanya lima formulir. Kemudian nama-nama Muslim yang tercantum dalam Yellow Pages mencoba didata dan dikirimi brosur donatur. Dan hasilnya tak lebih dari sepuluh orang donatur. Namun dengan terus bekerja keras dan serius dalam pengelolaannya, akhirnya perjuangan YDSF menampakkan hasil yang cukup menggembirakan.

Di sisi lain, langkah untuk lebih meningkatkan potensi sekolah semakin lempang, ketika dirinya bertemu dengan rekan aktivis yang juga seorang pengusaha. Dari pertemuan itu, lalu pada tahun 1989 didirikanlah YLPI (Yayasan Lembaga Pendidika Islam) Al-Hikmah. Kemudian didirikanlah sekolah mulai TK hingga SMA. Tak berselang lama, sekolah ini akhirnya menjadi model keberhasilan sekolah Islam. “Banyak sekolah-sekolah lain yang melakukan studi banding ke sini. Sebab mutu Al-Hikmah memang merupakan sekolah yang pantas dan mudah untuk dicontoh,” tukasnya.

Disamping aktif mengelola pendidikan Al-Falah dan Al-Hikmah, Ketua Dewan Pengurus YDSF ini tentu aktif pula menyumbangkan pikirannya untuk Yayasan Perguruan Al-Irsyad Surabaya. Di sini dirinya diberi amanah sebagai Pembina dan Ketua Dewan Pendidikan dan Pengajaran. Tak ayal, dengan sentuhan tangannya pendidikan SD hingga SMA di kawasan Perak itu terdongkrak kualitasnya. Kini bahkan telah menjadi salah satu sekolah teladan di wilayahnya.

Berbagai keberhasilan inilah, yang ingin ditularkan Pembina YLPI Al-Hikmah Surabaya ini ke sekolah-sekolah Islam dan madrasah-madrasah. Kalau selama ini bantuan biasanya berupa sumbangan fisik, tetapi dirinya ingin memberikan sumbangsih berupa pengembangan SDM pengelolanya. Baik pengurus yayasannya, Kepala Sekolah, utamanya kepada para guru-gurunya. Lewat KPI dilakukanlah training-training untuk peningkatan kualitas sumberdaya manusia tersebut. Dengan begitu diharapkan, agar sekolah Islam siap berkompetisi dalam persaingan dan tantangan di era global.

Ir. H. Abdulkadir Baraja kiranya layak dikedepankan sebagai salah seorang tokoh pendidikan. Disamping punya visi yang jelas dan memiliki komitmen yang kuat, kepribadiannya dikenal sebagai sosok yang sederhana, sabar, ulet, berani dan mau bekerja keras. Setidaknya, kehadirannya merupakan secercah sinar bagi kebangkitan pendidikan Islam. Yang menarik, di tengah hingar-bingarnya dunia politik dirinya sama sekali tak bergeming. “Abah melarang saya untuk terjun ke panggung politik. Lagi pula di parpol itu umurnya kan tak lama? Tetapi kalau lewat lembaga edukasi dan dakwah, itu bisa panjang. Dan perjuangan itu memang panjang sekali,” tegasnya. Il

Advertisements

Comments»

1. Mohammad Salahuddin Thalut - 22 Jul 2011

salut buat ustadz Kadir…

2. emira - 30 May 2012

Subhanallah Perjuangan penuh semangat dan ulet……


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: