jump to navigation

Mewaspadai Datangnya Banjir Nuh 22 Jan 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Wawancara.
Tags: , , , , , , , , , , , ,
trackback

Setelah sekian lama berdiam sunyi di “goa” pertapaannya, budayawan Emha Ainun Nadjib kembali menghentakkan masyarakat Surabaya. Dia hadir lewat aksi panggungnya dalam pementasan musikalisasi puisi bertemakan “Presiden Balkadaba, awal Juni lalu.

Seperti biasanya, baluran puisi-puisi Cak Nun – demikian ia karib disapa, selalu mengandung sejumlah kritik bertemakan sosial, politik, agama maupun kemanusiaan. Ia tak hanya mengkritik pemerintah, tapi juga rakyat dan pemuka agamanya. “Kondisi Indonesia yang carut marut, akan segera membawanya ke kolam kehancuran. Peningkatan pemanasan global juga akan menjadi deretan faktor yang akan menenggelamkan Indonesia seperti banjir Nuh sekitar 5.000 tahun lalu,” tukas suami Novia Kolopaking ini bernada serius.

Untuk menelusuri lebih lanjut pernyataan Emha, wartawan Jendela Santri Dedy Kurniawan dan Yunan Athoillah secara khusus mewancarai ayah vokalis group musik Letto itu. Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana Anda melihat kondisi bangsa saat ini?

Semuanya amburadul. Sistemnya, moral pemimpinnya, ulama’, wakil rakyat, maupun masyarakatnya, semua sudah tidak berjalan di jalur relnya. Pemimpin tak lagi ngurusi rakyatnya. Wakil rakyat cuma nyengklak jabatan lewat pemilu yang dipilih rakyat. Ulama’ tak lagi menjadi penjaga gawang moral, malah sibuk ikut terjun payung di lembah politik praktis. Sementara rakyatnya, tak paham akan hak dan kewajibannya.

Kalau sudah terlanjur demikian, prioritas mana yang harus dibenahi terlebih dahulu?

Sebentar. Jangan bertanya apa yang akan dibenahi. Tapi siapa yang akan membenahi dan siapa yang mau membenahi. Benarkah kita ini mau perubahan. Ada tidak yang mau dengan perubahan. Silakan tanya pada presiden, gubernur, walikota maupun DPR, apakah mau dengan perubahan. Lha wong enakan begini. Jadi siapa yang akan membenahi, Saya? Lha wong mereka yang berak, kok saya yang menyiram. Seenaknya sendiri saja.

Lantas, dengan cara apa kita bisa memulihkan kondisi bangsa yang hampir lumpuh ini?

Disikat Gusti Allah. Kalau sistemnya sudah salah, maka Indonesia harus bubar dulu. Tapi bukan berarti kalau bubar, bangunan negara akan ikut runtuh. Dan siapa yang membubarkan? Nanti Allah sendiri yang akan membubarkan negara ini. Sebab kita bukanlah penguasa kehidupan. Kita juga bukan satu-satunya yang mengelola kehidupan, bukan satu-satunya staf-Nya yang mengurusi kehidupan. Tapi ada yang memiliki kehidupan ini. Dialah Allah Swt.

Kalau negara mesti bubar, berarti harus ada goro-goro (peristiwa, red) besar yang bisa menghancurkan Indonesia ini?

Sebenarnya negara ini kan sudah tidak ada. Kalau kita mengerti neoliberalisme, maka kita akan sadar bahwa fungsi negara cuma tinggal 20% dan yang 80% itu terserah apa maunya rakyat. Apa presiden peduli sama pasar turi? Apa gubernur punya otoritas pada walikota Surabaya soal Jagir? Tidak punya toh. Berarti sudah tidak ada negara.

Jadi, negara yang ada sekarang hanyalah sebuah alat buat nyengklak pejabat agar bisa tawar-menawar mencari untung sendiri. Dan kita ini terlalu bodoh untuk melegitimasi pejabat yang nyengklak tadi. Kita pun dibodohi dengan beragam program yang katanya menganut ekonomi kerakyatan. Saya tekankan, tidak ada ekonomi kerakyatan di negara ini.

Maksudnya?

Bagaimana ada ekonomi kerakyatan, kalau yang kita anut ini adalah pasar bebas. Yang namanya ekonomi kerakyatan itu ada proteksi negara. Maka kalau ada yang ingin mendirikan carefure di sini, maka Walikota Surabaya harus tawar menawar dengan pemilik. Berapa prosen keuntungan yang harus masuk ke APBD. Dan sekarang pun, ke mana arah larinya APBD kita? Seharusnya, apa pun yang masuk, tujuannya adalah untuk kepentingan rakyat.

Semisal Freeport di tanah Papua. Seharusnya ada pembagian prosentase. Berapa prosen untuk perusahaan, berapa prosen untuk daerah maupun pusat, serta berapa prosen untuk masyarakat lokal. Harus ada perjanjian yang jelas. Itu namanya ekonomi kerakyatan. Tapi sekarang kan rakyat dibiarkan semaunya dan mencari makan sendiri.

Tapi, nyatanya pemerintah kan tidak berdiam diri Cak. Pemerintah masih memberikan bantuan lewat BLT dan program bantuan yang lain?

BLT itu kan uangnya berasal dari rakyat. Jadi, mengapa harus disebut bantuan. Itu haknya rakyat yang sudah semestinya harus diberikan. Dan bagaimana pemerintah dapat membantu, lha wong untuk membayar dirinya sendiri saja pemerintah tidak bisa kok.

Jadi, apa yang harus dilakukan masyarakat sekarang?

Menyelamatkan diri dan keluarga. Intinya, masyarakat harus mandiri. Jadilah umat yang baik. Berpegang teguhlah pada keyakinan anda. Tidak usah ikut-ikutan menyalahkan atau mengkafirkan umat yang lain. Setelah menjadi umat yang baik, maka bermasyarakatlah agar memiliki kekuatan kedaulatan sebagai rakyat. Sehingga kita akan memiliki bargaining power.

Cak Nun, dari tadi Anda seringkali mengkritik pemerintah. Bahkan semua presiden pun Anda anggap salah. Kenapa?

Karena saya mempelajari sejarah-sejarah konstelasi.

Lantas, kenapa tidak Anda saja yang maju?

Gak ada jalannya. Lha wong sistem sepak bola kita saja salah kok. Aku ya gengsi mau masuk lapangan. Saya juga termasuk orang yang takut untuk menjadi apa saja. Cuma kalau gusti Allah menyuruh, jangankan jadi presiden, jadi gelandangan pun saya lakoni.

Menurut Anda, diperlukan waktu berapa lama untuk memulihkan kondisi bangsa yang sedemikian ini?

Bisa diperkirakan, tapi bukan jawaban. Makanya pada pementasan ini saya gunakan istilah Balkadaba. Karena kita sekarang berada dalam siklus 5.200 tahun. Banjir Nuh itu kan terjadi sekitar 5 ribu sekian tahun. Banjir yang melanda itu tidak mungkin datang dari air hujan ataupun luapan air sungai. Satu-satunya yang memungkinkan, adalah pencairan kutub. Karena banjir Nuh itu menutupi benua besar dari India sampai ke Ternate.

Dan ini adalah sebuah siklus alam. Menurut hitungan supra galaksi, kalau banjir Nuh terjadi pada 5.200 tahun, maka penanggalan maya itu dimulai pada 3.113 SM dan berakhirnya pada 21 Desember 2012. Setelah 21 Desember itu, tidak akan ada pengetahuan lagi. Benar apa tidak, ya tidak tahu.

Bencana itu memang harus terjadi, atau masih bisa dicegah?

Terserah Tuhan. Kalau menurut teori ilmu pengetahuan kan begitu. Dan tidak ada seorang pun ilmuwan modern yang mampu membantah analisis Inkamaya. Ya… jangan diseram-seramkan. Tapi juga jangan diremehkan.

Tapi di zaman itu kan masih ada Nabi Nuh yang mampu membuat kapal sebagai tempat penyelamatan. Lantas sosok seperti apa yang menurut Anda mampu menggantikan peran Nabi Nuh?

Sebenarnya saya punya hipotesis soal ini. Manusia itu kan mengalami degradasi. Zaman dulu, kita mengontrol alam hanya dengan kendali hati. Jadi, orang itu harus suci. Sayangnya, untuk menjadi pemimpin di zaman ini tidak ada syarat kesucian. Kalau kita melakukan perzinahan dua jam sebelum kita diwisuda menjadi seorang Doktor, akankah menjadi batal gelar doktornya? Tidak kan. Sebab tidak ada syarat kesucian. Tidak ada mekanisme batin.

Saat wahyu datang kepada Nabi Musa itu bentuknya bukan berupa kitab, tapi lembaran. Kenapa? Pendekar itu, kian tinggi ilmunya, makin pendek tombaknya. Semmakin rendah tingkatnya, makin panjang tombaknya. Kalau benar-benar sudah jadi pendekar, kita tak butuh lagi yang namanya tombak. Sebab tangan kita bisa menjadi senjata, baik keris, tombak maupun yang lainnya.

Maksudnya?

Kitab dari Taurat hingga Al-Qur’an kan belum ada dua millennium. Sebab Taurat Musa ada sekitar 600 tahun SM. Padahal sebelum itu, pada kurun waktu sekian millennium belum ada kitab. Artinya, zaman dahulu tidak memakai pedang ataupun tombak. Tapi orang mampu bergulat, bisa bergaul dengan lumba-lumba, dapat ilmu dari hewan, serta bisa berbicara dengan semut. Mengapa bisa terjadi? Karena mereka rajin mengolah batinnya. Itulah yang tak kita pelajari di kampus. Padahal kita sudah belajar di bangku sekolah selama belasan tahun. Kita terlalu mengandalkan otak dan mengabaikan kekuatan hati.

Maksud saya, intinya manusia telah mengalami degradasi. Barangkali Tuhan telah merencanakan demikian. Manusia semakin lama kian dijadikan Tuhan bertambah rapuh, kecil dan bodoh. Maka di ujung-ujung zaman, Allah memberi pedoman manusia berupa kitab yaitu Taurat, Zabur, Injil dan al-Qur’an untuk memudahkan manusia. Kita mengenal adanya Allah, malaikat dan yang gaib lainnya lewat kitab-kitab itu tanpa harus melakukan pencarian dan penelitian. Kalau zaman dulu, orang-orang melatih rasa dan mengolah batinnya untuk mengetahuinya secara langsung.

Berarti, mau tidak mau, kita harus kembali pada ruhani kita?

Iya dong. Makanya, Nabi diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlaq. Akhlaq kepada tumbuh-tumbuhan, kepada manusia, angin, kepada Allah. Semua itu harus ada alatnya. Apa itu? Man ‘arafa nafsahu faqod ‘arafa robbahu. Ironisnya, kita tak mengenal hati kita sendiri.

Bagaimana cara termudah menuju hati tanpa mengabaikan aktivitas keseharian?

Itu gampang. Tinggalkan segala macam suplemen. Suplemen itu kan segala sesuatu yang dari luar dan diperbantukan. Diri kita sekarang terlalu lemah. Sakit sedikit, minum obat. Mau kuat menyetir mobil saja harus pake obat penambah stamina. Seharusnya yang kita lakukan, adalah konsentrasi pikiran dan menguatkan hati. Peradaban suplemen inilah yang kian mengerdilkan manusia.

Lantas bagaimana kita bisa mengetahui kedalaman hati kita?

Untuk mengetahui dasar kolam, maka airnya harus tenang. Begitu juga kalau kita ingin mengetahui dalamnya hati. Maka hati kita harus berdiam. Kalau hati terus bergejolak, maka akan sulit untuk mencapai makrifat. Jadi hati harus bertapa. Dalam artian, hati jangan diseret untuk memiliki keinginan akan sesuatu. Hindari dendam, iri hati dan ragam penyakit hati lainnya. Kalau kita tentram dengan Allah, maka hati juga akan tenang. Kalau hati kita tenang, maka kita bisa melihat beningnya hati dan melihat Allah.

Agar bisa menyelam di lautan hati, apa dibutuhkan waktu-waktu khusus untuk berkontemplasi?

Itu juga bagus. Tapi ada yang namnya topo ing rame (bertapa dalam keramaian).

Caranya?

Sering menarik nafas panjang. Jangan terseret apa-apa. Tapi kemandirian juga ada bahayanya. Kalau kita terlalu mandiri, kita akan bisa sombong.

Comments»

1. F4iz - 22 Jan 2010

indah sekali… lama sekali tidak baca steatment cak Nun… terima kasih….:-)

decazuha - 23 Jan 2010

Puisi Cak Nun memang inspiratif. Retorika gaya bahasa Cak Nun memang sungguh memikat. Thanks

2. yunan athoillah - 26 Jul 2010

wah smakin top aza………..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: