jump to navigation

Prof. Dr. Zainuddin Maliki, M.Si 17 January 2010

Posted by decazuha in Tokoh Nusantara.
Tags: , , , ,
trackback

Menulis Tanah dengan Kaki

Siapa pun tak akan percaya, jika di rapor seorang Prof. Dr. Zainuddin Maliki, M.Si, banyak sekali terdapat angka merah. Tapi memang begitulah kenyataannya. Nilai tersebut, ia dapatkan saat masih duduk di bangku sekolah dasar. “Saya baru bisa membaca dan menulis ketika kelas 4 SD. Itupun bisanya diajari oleh ibu saya sendiri,” tutur anak pasangan Syahri dan Siti Muawanah ini. “Bahkan saya sempat minta untuk tidak naik kelas karena belum bisa baca. Tapi guru saya menolaknya,” tambah lelaki kelahiran Tulungagung, 7 Juli 1954 ini.

Memang tak banyak yang tahu tentang kehidupan masa silamnya. Sebab banyak cerita kenangan masa kecilnya, yang hampir-hampir terkubur kubangan waktu. Serpihan bukti-bukti lembaran sejarah hidupnya itu, baru ditemukan anaknya beberapa tahun yang lalu. “Saya sungguh terkejut dan malu. Padahal Rapor tersebut sudah saya simpan rapat-rapat. Eh… nggak tahunya ketahuan juga,” kata dosen program Magister Pendidikan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta itu sambil tertawa renyah.

Sejak kejadian itu, suami Esti Purwati ini merasa wibawanya sebagai seorang ayah meredup. Sebab Rapor tersebut lantas dijadikan bahan gojlokan oleh anak-anaknya kepada dirinya. “Ya… ternyata nilai ayah dulu jelek sekali. Gitu aja, nuntut anaknya selalu rangking,” tutur anak ketiga dari sebelas bersaudara ini menirukan ejekan anaknya.

Merasa diprotes anaknya, bapak tiga anak – yang putra sulungnya sudah meninggal – ini pun sempat bingung bukan kepalang. Sebab dirinya memang sangat menekankan akan pentingnya pendidikan pada semua anaknya. Tapi kenyataan itu, benar-benar membuatnya tersudut. “Saya takut anak-anak tak lagi mau belajar,” kilah lulusan terbaik Magister Sains pada ilmu sosial Unair Surabaya, tahun 1996 ini.

Agar semua anaknya mau terus giat belajar, Alumnus FU-IAIN Sunan Ampel Surabaya jurusan Aqidah/Filsafat ini pun lantas menuturkan proses pelajaran hidupnya sejak masih kecil. Kehidupan Ayah dulu, ceritanya pada sang buah hati, sangat jauh berbeda dengan kondisi yang kamu alami saat ini. Dulu, ayahmu ini hidup dalam serba kekurangan. Saban hari hanya bisa makan tiwul dan gaplek.

Untuk bisa sekolah, lanjutnya, mbah putrimu dulu harus sering cari utangan. Guna melunasi hutang-hutang tersebut, ia harus cari pinjaman di lain tempat. Gali lobang tutup lobang. Fasilitas yang kamu miliki sekarang, tidak seperti pada zaman ayah dahulu. Saat ini sudah ada banyak buku, bahkan komputer hingga internet. Kecanggihan teknologi semacam itu, tak pernah ayah temukan saat sekolah dulu.

Karena tak memiliki alat tulis, sambungnya, maka ayahmu ini dulu hanya bisa mendengarkan dan mencoba sedapat mungkin untuk mengingat semua pelajaran yang diberikan guru. Pernah ayah punya saba’. Itupun nemu di jalan. Kondisinya pun sudah tak utuh lagi. Ayah menemukannya dalam bentuk sobekan. Yang begitu itu, masih untung buat ayah. Sebelumnya, untuk menghitung, ayah harus menggunakan kaki guna menulis di tanah. Tapi kondisi yang demikian ini kan tak lantas membuat ayahmu ini malas belajar.

“Perhatikanlah! Berapa banyak prestasi yang sudah ayah dapatkan. Hal itu tak mungkin ayah raih tanpa proses belajar yang sungguh-sungguh,” tandas dosen FIS Universitas Negeri Surabaya (UNESA) ini sambil menunjukkan bukti-bukti prestasinya. Mendengar penjelasan itu, anak-anaknya pun mulai bisa memahami. Sejak saat itulah, semua anaknya tambah rajin belajar.

Prof. Dr. Zainuddin Maliki, M.Si memang mengawali hidupnya penuh dengan banyak keprihatinan. Ia hidup di Desa Tanen, Rejotangan, Kab. Tulungagung. Sebuah desa yang jaraknya sekitar 20 Km dari kota. Setengah kilometer dari rumahnya sudah merupakan kawasan hutan belantara. Tak ada jalan yang beraspal. Ia hidup dan belajar tanpa ditemani penerangan listrik. Yang ada hanya lampu templek.

Orangtuanya hanya buruh tani yang saban hari harus menggarap sawah milik tetangga. Meski demikian, orangtuanya sudah melek huruf. Zainuddin merasa beruntung memiliki ibu seperti Siti Muawanah ini. Sosok inilah yang terus mengalirkan energi dan menebarkan virus belajar kepada Zainuddin dan saudara lainnya agar tak kenal lelah menuntut ilmu. “Ibulah yang banyak mengajari kami. Sebab ia sangat menekankan pentingnya sebuah pendidikan. Sedang ayah, banyak memberikan pelajaran mental dalam bekerja,” tuturnya.

Tiap habis Maghrib, Zainuddin belajar membaca dan menulis pada ibunya. Ia masih ingat betul akan bunyi tulisan yang pertama kali ia baca. “Terpijak oleh pecahan kaca. Itulah kalimat pertama yang bisa saya baca,” ungkapnya. Sejak saat itu, Zainuddin semakin gemar membaca. Semua buku yang ada di perpustakaan sekolah, habis dilahapnya. Kebiasaan inilah yang hingga sekarang terus melekat pada dirinya.

Kemanapun Zainuddin pergi – baik saat melakukan penelitian, kunjungan, seminar maupun yang lain – tempat pertama yang biasa ia kunjungi pastilah toko buku dan perpustakaan. Tiap ada judul buku baru, ia pasti beli. Berapapun harganya. Sebuah pengalaman yang tak pernah bisa ia lakukan sebelumnya. “Dulu, jangankan beli buku. Untuk membeli baju saja, harus menunggu setahun sekali saat lebaran,” kenangnya penuh haru.

Selepas Tsanawiyah, Zainuddin mulai jarang tidur di rumah. Sesuai tradisi di kampungnya, anak remaja seusianya pada saban hari menjelang Maghrib, sudah harus berangkat ke langgar. Selain shalat berjamaah dan mengaji, mereka juga belajar bersama. Zainuddin baru pulang ke rumah, setelah shalat subuh karena malamnya harus tidur di langgar.

Aktivitas ini dilakoninya hampir tiap hari. Jika pun tidak, itu karena Zainuddin suka nonton pagelaran wayang. Ia mengaku, jika wayang itu manggung di kampungnya atau pun di desa tetangga yang tak jauh dari rumahnya, Zainuddin pasti akan datang melihatnya. “Karena tak tidur semalaman, saya biasanya minta untuk tidak masuk sekolah,” katanya.

Atas permintaan itu, bukanlah izin yang ia dapatkan. Ibunya marah. Tak jarang Zainuddin harus dipaksa ke kamar mandi dan dimandikan ibunya, karena masih merasa ngantuk berat. Selain nonton, ia juga gemar mendengarkan wayang lewat radio di rumah tetangga tiap hari Sabtu malam Minggu. Namun sekarang – meski di Televisi sudah banyak yang menayangkan – kebiasaan itu sudah tak mungkin dilakukannya, mengingat jadwal kegiatannya yang kian padat.

Selain sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya (2003-2011), profesinya sebagai guru besar memaksa dirinya untuk selalu belajar dan bergerak. Belum lagi aktivitasnya dalam dunia kepenulisan. Sudah banyak dari karya tulis Zainuddin yang telah terpublikasikan, baik berupa artikel maupun buku. “Menulis, merupakan rekreasi terindah dalam hidup saya,” ujarnya.

Aktivitas yang berjibun, ternyata tak lantas membikin dirinya merasa lelah dan ingin berhenti. Malah dirinya mengaku telah mendapat banyak berkah karena dikenal sebagai seorang penulis dan guru besar. Sebab dari kedua profesi inilah, Zainuddin dapat terbang jauh ke negeri seberang. Melihat dan mempelajari kehidupan masyarakat di belahan bumi yang lain dengan kacamata ilmu sosialnya. Baru-baru ini, ia dipilih masuk Tim Bakornas Penanggulangan Bencana dalam penjajagan pengadaan equipment of disaster management ke Chzech Republic, 2007. “Saya memang tak pernah bercita-cita menjadi seorang Profesor. Sejak kecil saya hanya ingin pergi ke luar negeri. Tapi tak tahu dari mana. Maklumlah, orang miskin,” tuturnya merendah.

Dalam dunia tulis menulis, Ketua Madrasah Development Centre (MDC) Provinsi Jawa Timur ini sangat mengagumi sosok penulis Kuntowijoyo. Baginya, dalam karya penulis tersohor itu, kerap menawarkan gagasan-gagasan segar atas problema yang dialami negeri ini. “Tulisannya, bagi saya amat sangat inspiratif,” tukasnya.

Selain mempelajari tulisan Kuntowijoyo, ia juga belajar dari penulis-penulis Barat. Sebagai pemikir otak kanan, ia mengaku, bahwa model berpikirnya banyak yang diwarnai oleh gaya pemikir Inggris dan Australia. Tak heran, jika pisau analisisnya, tak pernah berkarat dan semakin hari kian tajam. Zainuddin memang termasuk pemikir yang kritis. Hal ini bisa dilihat dari berbagai karya bukunya yang sudah terbit. Sebut saja bukunya yang berjudul “Agama Rakyat, Agama Penguasa”, “Agama Priyayi: Makna Agama di tangan elit berkuasa”, “Politikus Busuk” maupun “Demokrasi Tersandera”.

Selain mengkritisi masalah sosial agama, ekonomi dan politik, Guru Besar pada FISIP Universitas Muhammadiyah Sidoarjo ini juga memiliki minat terhadap interelasi pendidikan. Bukunya yang baru saja rampung dan masih dalam proses negosiasi dengan penerbit, juga membahas masalah pendidikan dari kaca pandang sosiologi.

Pendidikan di Indonesia, katanya, kian lama semakin menjauh dari tujuan pendidikan itu sendiri. “Masak, orang itu dinyatakan pintar kalau lulus Ujian Nasional. Kenapa sich penilaian kita selalu didasari oleh penilaian secara eksakta,” ujarnya bernada tanya. “Sebab belum tentu mereka yang tak bisa matematika, juga bodoh soal bahasa Inggris maupun sosial,” imbuhnya.

Zainuddin pun lantas menceritakan pengalamannya saat belajar di luar negeri. Di Australia, katanya, semua siswa pasti lulus. Hal ini sama seperti yang ada dalam pendidikan pesantren – sebelum pesantren ada pendidikan formalnya. “Belum tentu mereka yang ketika di SD bodoh, saat SMP akan tetap bodoh. Ada anak teman saya yang Profesor, dulunya bodoh. Bahkan dianggap merusak citra keluarga oleh kakak-kakaknya yang semuanya pandai. Tapi saat di bangku perkuliahan, ia malah bisa masuk UGM dan semakin pandai,” ujarnya mencontohkan.

Dan nyatanya, Zainuddin Maliki yang merupakan anak seorang petani miskin dan memiliki banyak angka merah di rapornya ini, sekarang telah sukses menggamit gelar Profesor dan menjadi penulis terkenal. Bahkan kini ia telah melahirkan generasi yang kesemuanya cerdas. Putranya yang bernama Renda Haniefa Rahmi, kini tengah kuliah di Ilmu Komunikasi, PIBT-Edith Cowan University, Perth. Sedangkan putra bungsunya Mikail Oasis Prabowo, sekarang sedang mengambil ilmu International Business di Limkokwing University, Kuala Lumpur, Malaysia. Nah! Dedy Kurniawan

Advertisements

Comments»

1. joko - 12 May 2011

Gelombang yang besar memang akan melahirkan nakoda – nakoda yang tangguh
( kami adalah orang awam yang ingin ikut serta memajukan pendidikan- LP3S

2. supani adi priyono - 21 June 2015

Ass Wr Wb. Saya bangga memiliki sobat telah berhasil dibidang akademik. Sukses untuk Prof. Zainudin semoga sehat dan bahagia bersama keluarga. Wass. Adi, alumni PGAN Tulungagung kini di FKP.Univ Moh.Husni Thamrin Jakarta.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: