jump to navigation

Prof. Dr. H. Imam Muchlas, MA 17 Jan 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Tokoh Nusantara.
Tags: , , ,
trackback

Mendapat Pesan Aneh dari Sang Istri

Tingginya pencapaian prestasi akademik, ternyata tak selalu berbanding lurus dengan peningkatan taraf kesejahteraan ekonomi seseorang. Gelar Prof. Dr. dan MA yang menyertai nama H. Imam Muchlas, nyatanya tak lantas membuat kehidupan lelaki asli Ngawi ini bergelimang harta. “Yang penting kan kaya ilmu,” candanya sambil senyum dikulum.

Mungkin tak banyak jumlah Guru Besar yang berperangai seperti H. Imam Muchlas. Sebagai Profesor ahli tafsir, penampilannya terasa amat sangat bersahaja. Nada dan gaya ngomongnya pun khas a la desa, meskipun tentu saja apa yang diucapkannya sangat ilmiah dan berbau akademik. Putra pasangan KH. Moch. Rofi’i dan Rustika ini pun bukan tipikal orang yang suka dipuji dan dijunjung. ”Kalau orang yang menjunjung capek, nanti saya bisa dibanting,” seloroh anggota Tim Ahli Majelis Tarjih PW Muhammadiyah Jatim ini.

Dilihat dari sikap dan caranya berbicara, menyiratkan bahwa ia bukanlah orang yang suka memandang remeh terhadap orang lain. Sewaktu mengulurkan uang pada pengamen misalnya, tak hanya sikap sopan yang ditunjukkannya. Bahkan sempat-sempatnya dia mengajak bercanda ria dengannya – walaupun itu cuma guyonan singkat. Barangkali penampilannya itulah, yang membuat orang lain dibikin kerasan ngobrol bersamanya.

Kharisma seeorang, tampaknya lebih mudah tumbuh dari ruang kebersahajaan. Oleh sebab itulah, dirinya telah merasa cukup dengan rumah kesederhanaan; tempat tinggal yang tak cukup besar dengan perabot rumah ala kadarnya. Rumah di Jl. Jendral Sudirman No. 43 Taman Jenggala Sidoarjo itu, sungguh jauh dari kesan mewah – bahkan bisa dibilang sangat sederhana.

Memang terasa aneh, jika di rumah seorang Profesor tak ada mobil yang menghiasi depan rumahnya. Pernah suatu ketika, ia membeli mobil tua seharga 3 juta rupiah. Namun tak berselang lama, dijualnya kembali mobil itu. Imam pun mengaku lebih menikmati naik angkot maupun taksi ketika bepergian ataupun berangkat mengajar.

Di ruang tamu miliknya yang cuma berukuran sekitar 3 x 3 meter, juga tak tampak perabotan mewah. Hanya seperangkat kursi tamu yang warnanya telah memudar dan terlihat banyak tambalan. Meja yang menyertainya pun, kayunya telah banyak yang mengelupas.

Masuk ke dalam ruang keluarga pun, juga tak terlihat barang berkelas. Cuma ada teve 15 inchi, juga seperangkat komputer kerja milik Prof. Imam Muchlas yang jadi pemanis ruangan. Serta jam tua yang menempel pada dinding kusam, karena cat temboknya telah usang dilumat cuaca.

Barangkali yang menjadi menarik dan sejuk saat menatap ruang itu, adalah berpuluh-puluh kitab yang dijajar rapi berderet di buffet – meskipun kitab-kitab tersebut saat ini sudah jauh banyak berkurang. Sebagian kecil, ia hibahkan ke Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dan sebagian lain diberikan kepada adiknya yang gemar membaca.

Meski hidup dengan kondisi seperti ini, tak lantas membuat keceriaan keluarga ini menghilang. Mereka terlihat begitu rukun dan damai. Untuk menumbuhkan kebersamaan dalam keluarga, H. Imam Muchlas mempunyai resep khusus.

Sejak kecil, anak-anaknya dididik agama. Mereka dibiasakan shalat berjamaah. Tiap Kamis malam Jum’at, keluarga besar tersebut mengaji surat Yasin berjamaah. “Saya yang memimpin kalau sedang di rumah. Jika tidak, maka istri yang membimbing,” ujar pria bertubuh kecil ini.

Dari pernikahannya dengan Sri Kustinah – gadis asli Ponorogo – pada tahun 1957, pasangan itu kini telah dikaruniai delapan anak dan delapan belas cucu. Kedelapan anaknya tersebut, kesemuanya telah meraih gelar kesarjanaan.

Putranya yang pertama, Drs. Hudiya Agung, merupakan alumnus IKIP Surabaya pada jurusan Geografi. Sekarang menjabat Wakasek di SMA 3 Sidoarjo. Adiknya, Drs. Itqon Marsudi, MAg juga telah merampungkan studinya di Fak. Syari’ah IAIN Sunan Ampel Surabaya dan telah bekerja sebagai Kepala KUA Kec. Gayungan Surabaya.

Anak ketiganya, Dra. Hj. Sofiyah, MM adalah alumnus Unmuh Surabaya pada jurusan Bahasa Inggris dan sekarang menjabat Kepala MIN di Surabaya. Yang keempat, Dra. Ava Anis, adalah alumnus IKIP Negeri Surabaya pada jurusan Kimia dan menjadi pegawai pada Dinas P & K. Yang nomor lima, Ir. Arif Wisaksono, telah lulus pada Jurusan Teknik Elektro di Unmuh Surabaya. Kini ia mengajar di SMA Dr. Soetomo Surabaya.

Putra H. Imam Muchlas yang keenam, adalah Yusro Suaidi. Alumnus Teknik Mesin ITS ini, lantas menikah dengan Dr. Nunuk, Kepala RS Tanah Merah Bangkalan. Yang ketujuh, Drs. Ahyar Syauqi, adalah alumnus Fak. Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya yang sekarang lebih memilih berwiraswasta di rumah. Dialah yang sekarang tinggal bersama dengan H. Imam Muchlas. Anaknya yang paling bungsu, adalah Drs. Izza Anshori, MT. Lulusan Teknik Elektro ITS ini, kini mengajar di Unmuh Sidoarjo.

Tentang prestasi putra-putrinya ini, menurut H. Imam Muchlas, lebih banyak diserahkan kepada istrinya. Alumnus SGHA Malang itulah yang lebih banyak berinisiatif membentuk pola keluarga. Mulai dari memilihkan sekolah maupun membikin kegiatan bersama. “Lha bagaimana lagi, wong waktu saya memang banyak habis untuk tugas belajar,” kilahnya. “Ya… yang penting bagi saya, asal apa yang mereka lakukan sesuai dengan rel agama,” tambahnya.

Kesemua anak H. Imam Muchlas kini telah berkeluarga. Namun kebersamaan yang mereka bangun tak pernah berhenti. Kebiasaan membaca Surat Yasin yang dulu mereka lakukan, masih terus dilakukan. Tapi tidak setiap Kamis. ”Untuk yang hari Kamis, mereka lakukan di rumah bersama keluarganya masing-masing. Kami semua hanya berkumpul sebulan sekali,” tutur lelaki yang gemar menghapal al Qur’an maupun terjemahan dalam bahasa Inggris saat dalam perjalanan ini.

Pertemuan tiap bulan itu, mereka kemas dalam balutan acara arisan keluarga, yang di dalamnya diisi pengajian oleh H. Imam Muchlas sendiri. Tak lupa dalam pertemuan itu, H. Imam Muchlas juga membuat makalah. Tempat arisan, dibuat bergiliran. Selain untuk menjaga terjalinnya suasana keakraban, arisan ini juga bertujuan untuk membantu anggota keluarga yang mendapat kesulitan. ”Kami membahas permasalahan apa saja yang menimpa tiap anggota keluarga untuk dicarikan solusinya,” ujar pria yang menyelesaikan S2 & S3 nya di IAIN Syarif Hidayatulah Jakarta ini.

Di Tahun 2000, keceriaan keluarga besar ini sempat meredup seiring wafatnya Sri Kustinah. Semenjak ditinggal istrinya, ruang kesederhanaan H. Imam Muchlas terasa begitu sunyi. Kelihatan sekali kalau dirinya merasa terpukul dengan kepergian istrinya tersebut. Selama tujuah bulan, dirinya limbung dan tak kuasa melupakan istrinya. ”Saya waktu itu sempat juga khilaf, karena sempat protes kepada Allah. Kenapa Allah begitu cepat mengambil istri saya,” akunya menyesal.

Sebelum meninggal, istrinya sempat meninggalkan pesan yang baginya aneh. Karena menurutnya, pesan itu adalah sesuatu yang dulu tidak disukai oleh istrinya. Selama menjadi istri H. Imam Muchlas, Sri Kustinah tak pernah rela jika suaminya itu menikah lagi. ”Betapa terkejutnya saya, ketika menjelang wafat ia malah berpesan kepada saya untuk menikah lagi. Bahkan pesan itu ia ulangi dua kali,” tuturnya haru. ”Pesan itu juga disampaikannya pada anak sulung saya, agar mau membujuk dan mendorong saya supaya mau menikah lagi,” tambah Pengasuh Tafsir Maudlui Kontemporer di majalah MPA ini.

Di mata Imam Muchlas, Sri Kustinah adalah perempuan yang istimewa. “Ia memiliki kepribadian yang kuat dan tangguh. Kesabaran dan keteguhan hatinya dalam mendidik anak-anak, tak mungkin bisa saya lupakan,” tuturnya dengan suara yang agak berat. ”Sampai sekarang pun saya masih sering kirim fatihah setiap habis sholat untuk istri saya,” ujarnya menambahkan.

Untuk membunuh rasa sepinya, ia lebih banyak menulis buku. ”Membaca CD kitab dan menulis di Komputer, sudah saya anggap menjadi wiridan wajib,” ujarnya. Tujuh bulan berselang, Ia mulai bangkit dan melangkah untuk membuka lembaran kehidupan baru. Mencoba tuk melupakan kesedihan tak bertepi itu, dengan menikahi Nur Syamsidar – putra mantan Kepala Kandepag Kab. Situbondo, Wildan Suyuti.

Memasuki masa senjanya, H. Imam Muchlas, sudah terlihat mengurangi kegiatannya, mengingat usianya yang sudah menembus angka 70-an. Kecelakaan yang dialaminya pada 12 April 2007 lalu, juga sempat membuat lelaki kelahiran 24 Agustus 1935 itu frustasi. Kini, ia lebih suka di rumah.

Dia pun menolak untuk diminta mengajar kembali. Ia lakukan ini, karena dirinya sudah merasa tak kuat lagi mengajar. Tenaganya telah digerogoti usia. ”Hapalan saya pun sudah mulai menurun. Otak saya sudah kendur,” akunya. ”Sudah waktunya yang muda-muda ini tampil. Harus ada generasi baru yang meneruskan,” ujarnya berharap.

Akibat kecelakaan itu, ia harus memakai kursi roda. Namun hanya berselang tiga bulan, ia sudah bisa memimpin shalat rowatib kembali di Masjid Al Furqon yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Ia pun mulai lagi aktif menulis. Dirinya berharap, akan mampu merampungkan cita-citanya untuk membuat  Qur’an tematis: kunci mencari ayat suci sesuai dengan Tema.

Prinsip hidup yang selalu ditekankan oleh Mufassir ini, adalah aktif, dinamis, kreatif dan produktif. Tubuh yang aktif akan membuat sesorang akan senantiasa dikaruniai kesehatan. Dengan begitu, maka hidupnya akan menjadi dinamis. Dari dinamisasi hidup ini, akan menuntut orang untuk selalu kreatif. Dan dari kreatifitas inilah akan membentuk seseorang untuk selalu produktif. Di samping itu, menurutnya, kita harus memiliki pandangan hidup yang realis dan menghadapi segala hal dengan rasa gembira. “Saya yakin jika ini dilakukan secara benar, maka kita akan selalu nampak awet muda,” tuturnya sambil tersenyum. Dedy Kurniawan

Comments»

1. dewikhoiri - 19 Aug 2014

Semoga Prof. Dr. Imam Muchlas, MA sll sehat & terus berbagi ilmu pd generasi2 brktx. Amin


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: