jump to navigation

Moh. Ibrahim Rais 17 Jan 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Tokoh Nusantara.
Tags: , , , ,
trackback

Melacak Sejarah yang Berdarah

Setiap kali asap komunisme mengepul, api dalam diri Moh. Ibrahim Rais terasa membakar sekujur tubuhnya. Itulah yang menyebabkan dirinya selalu dirundung gelisah. Sebab akhir-akhir ini, asap itu dilihatnya telah mengepul di mana-mana. Barisan sakit hati di masyarakat kian menggenggam bara. Lalu bara itu kembali menjadi api; membakar pasar-pasar, demo dan amuk massa, rel kereta api digergaji, isu-isu meresahkan merebak menghasut pemuda dan mahasiswa, dan sabotase telah terjadi di mana-mana.

Bagi lelaki kelahiran Kediri 10 Mei 1943 ini, untuk mengetahui bahwa PKI telah bangkit lagi, itu gampang – bak orang yang pernah makan buah durian. Meskipun durian itu disimpan rapat-rapat, baunya mesti tercium. “Siapa pun yang pernah merasakan kebiadaban PKI, meskipun tak menggunakan atribut dan mantel pasti tahu kalau dia itu komunis,” tandasnya.

Bahkan menurut anak pasangan Moh. Rais dan Aisyah ini, kini bau durian itu telah merebak kemana-mana. Dendam komunis telah merangkak muncul ke permukaan. Gerakan tersebut tak bisa dilawan dengan hanya mengandalkan pikiran. “Komunisme sudah ada di depan mata. Ini tidak bisa kita biarkan. Harus kita hadang dengan pakai tenaga,” tukasnya dengan nada meninggi.

Dari deretan peristiwa yang terjadi, tutur ayah lima anak dan kakek sepuluh cucu ini, mengingatkan pada memori masa silamnya. Di tahun 60-an itu, kondisi perekonomian dan situasi sosial sangat carut marut. Keberadaan masyarakat menjadi serba kacau balau. Orang-orang yang agak mapan hidupnya, diteror dengan aksi yang sepihak. “Saat lusa mau panen, keesokan harinya sudah didahului oleh orang-orang komunis. Mereka seakan merasa syah menjarah apa saja,” kisahnya dengan mata menerawang. ”Kondisi waktu itu memang sangat mencekam sekali. Saya tak bisa melukiskannya dengan kata-kata,” tambahnya.

Itulah yang membuat dirinya memilih hengkang dari IAIN Kediri. Lalu bergabung dengan teman-teman PII dan terjun langsung dalam kancah api perjuangan. Sebab stabilitas keamanan benar-benar terganggu. Tragedi kemanusiaan sudah tak dapat dihindarkan lagi. Kekacauan pada tahun 1962 dan 1963 di Kediri itulah, yang kemudian meletuskan Peristiwa Jengkol. Tanah milik Pabrik Gula Ngadirejo dirampas orang-orang komunis. Lantas dibagi-bagikan kepada masyarakat yang mau bergabung dengan Barisan Tani Indonesia (BTI/PKI).

Sebagai aktivis PII, anak kedua dari empat bersaudara ini kerap bolak-balik antara Ngadiluwih dan Jagul Wates. Karena mereka harus sering melakukan koordinasi, sambil memantau perkembangan yang terus terjadi. Sebab tanah-tanah telah dipatoki dan ditanami pisang. Kemudian oleh pihak PG pohon pisang itu segera ditraktor. Esok harinya, tanah tersebut sudah dipatokinya dan ditanami pohon pisang kembali. Terus begitu secara berulang-ulang. Merasa sudah tak mampu lagi membendung ulah warga, pihak PG melaporkan hal itu kepada Polsek. Lantaran jumlah personelnya yang sedikit, maka pihak polsek pun melapor ke Kodim.

Ketegangan antara tentara Kodim dan barisan komunis tak bisa dielakkan. Tetapi ulah orang-orang komunis memang sangat licik. Mereka tempatkan wanita-wanita muda pada barisan terdepan. Barisan Gerwani/PKI yang dipimpin Sugiarti – anak Lurah Jagul Wates ini, berdemo dengan menggunakan kendaraan jip terbuka dalam keadaan telanjang bulat. “Ia mencaci maki dan menghina tentara sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah duburnya,” ungkapnya. Maka peristiwa berdarah pun tak dapat dibendung lagi. Dalam menghadapi massa yang semakin beringas, terpaksa pihak tentara meletuskan tembakan. Korban pun lantas berjatuhan.

Menurut Ketua Wilayah GNPI (Gerakan Patriot Nasional Indonesia) Jawa Timur ini, cara-cara komunis yang demikian itu sekarang sedang diulang kembali. Saat acara Papernas di Batu beberapa waktu lalu, GNPI bersama lembaga lainnya ikut memprotesnya. Sehingga acara yang sedianya berlangsung tiga hari itu, dibuka pada jam 12 siang dan berakhir pada jam 10 malam. “Mereka mau bubar, tapi meminta jaminan keselamatan dari kami dan pihak polisi,” tutur Ibrahim yang juga memenuhi permintaan itu.

Yang membuat Ketua Laskar Ampera Arif Rahman Hakim ini kaget, ternyata yang awal-awal keluar adalah anak-anak. Kemudian diikuti para wanita di belakangnya. Baru setelah itu, tokoh-tokoh komunis muda. “Bayangkan seandainya kami jadi menyeruak ke dalam, pastilah yang jadi korban adalah anak-anak dan para wanita,” ulasnya bernada keluh. “Ini memang cara khas komunis. Tiap melakukan aksinya, anak-anak dan wanita selalu jadi tameng,” tambahnya meyakinkan.

Oleh karena itulah, mantan Ketua KAHMI Kota Kediri ini mewanti-wanti agar peristiwa kekejaman kaum komunis, jangan pernah dilupakan. Sebab akhir-akhir ini telah banyak orang yang berusaha menghapus jejak-jejak sejarahnya. Juga termasuk lembaran kelam Peristiwa Kanigoro di Kediri. Karena kejadian 42 tahun silam itu, benar-benar sangat melukai hati. Tragedi itu masih terpahat kuat-kuat di memori pasangan Ibrahim Rasis dan Siti Muawanah.

Tepat di waktu subuh bulan Ramadhan, peristiwa nahas itu terjadi. Ribuan massa komunis menyerbu pemuda PII yang tengah mengadakan Mental Training di Desa Kanigoro Kec. Kras Kab. Kediri. Pelajar yang hanya berjumlah 120-an itu pun, hanya lunglai getir tak kuasa melawan. Dengan kaki kotor bekas lumpur sawah mereka menginjak-injak masjid, menjarah barang-barang, mengobrak-abrik dokumen-dokumen penting, dan mensobek-sobek al-Qur’an.

Maka shubuh itu pun segera berubah menjadi pagi kelabu. Dengan sangat keji masa komunis menangkap dan mengikat para pemuda PII. KH. Jauhari – ayahanda Gus Maksum Lirboyo – yang sedang berada di tempat, juga sempat dipukul dan diludahi. Jerit tangis pun menyeruak seketika dari ruang asrama putri. Orang-orang komunis secara beringas melakukan pelecehan seksual terhadap kader-kader perempuan PII. ”Teman saya yang dari Kertosono, sempat digrayangi mulai payudara hingga kemaluannya,” tutur Siti Muawanah – yang waktu itu juga sebagai peserta training – dengan nada pedih.

Dengan tangan terikat antara satu dengan yang lainnya, mereka digelandang ke kantor polisi, melewati rute panjang area persawahan. Sepanjang perjalanan, mereka dibombardir dengan teror dan caci maki. Dengan suara memekakkan orang-orang komunis itu berteriak: Inilah antek-antek Nekolim. Inilah antek-antek Masyumi. Ayo bunuh saja! Utang kita di Madiun, utang kita di Jombang, bayar saja sekarang. Mari kita tuntaskan dendam luka lama. Kita habisi saja mereka sekarang!

Luka itu pun lantas bersarungkan tumpukan derita lainnya. Bahkan menjelang Gestapu, luka itu kian menganga. Kader-kader komunis semakin kerap melakukan latihan baris-berbaris. Yang mengerikan lagi, di pekarangan belakang rumah mereka terdapat lubang-lubang yang disiapkan untuk pembantaian. “Kami pun menemukan daftar nama-nama yang akan dibunuh PKI. Jadi waktu itu, tak ada pilihan bagi kami: dibantai atau membantai,” tegasnya.

Peristiwa kelam itu, hingga kini masih disimpannya dengan rapi agar tak lekas menguap ditelan masa. Itulah yang membuat mantan anggota DPR Kota Kediri ini, sering diminta memberikan kesaksian hidup di berbagai daerah. Oleh karenanya, meskipun PKI keberadaannya dilarang di seluruh wilayah Indonesia, semangatnya tak pernah mengendur untuk tetap mewaspadainya. ”Gejala-gejala reinkarnasi komunisme telah nampak. Dan sampai kapan pun, saya tak pernah rela jika PKI bangkit kembali di persada negeri ini,” tandasnya. ”Sebab Sayuti Melik pernah berkata: Kalau ada pemuda belajar komunisme tapi kok tidak tertarik, maka dia termasuk bebal. Tapi jika pemuda yang belajar komunise tapi kok sampai tua tetap komunis, maka dia lebih bebal lagi,” tambahnya. Dedy Kurniawan

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: