jump to navigation

Melatih Jiwa Memasuki Shalat Khusyu’ 17 Jan 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Artikel.
Tags: , , ,
trackback

Khusyu’ bukan hanya milik para nabi ataupun wali-wali Allah. Semua bisa merasakan khusyu’, seperti kita semua dapat merasakan cinta. Tapi mengapa shalat khusyu’ sulit kita dapatkan?

Langit biru di atas kubah masjid Masjid Nasional Al-Akbar di Minggu pagi itu begitu cerah. Tak kurang dari delapan ribu jamaah menghujani masjid kebanggan masyarakat Surabaya itu.

Halaman parkir masjid Al-Akbar, menjadi begitu sesak. Sejumlah bus rombongan jamaah terlihat berjajar. Puluhan mobil juga rapat berhimpitan. Ratusan sepeda motor menyesaki setiap jengkal sudut parkiran.

Pria, wanita, tua, muda, bahkan anak-anak turut serta mengikuti pelatihan shalat khusyu’ yang dibimbing Ustadz Abu Sangkan. Tak hanya jamaah dari Surabaya, tapi juga datang dari penjuru desa yang menyebar di kabupaten/kota se-Jatim. Menurut panitia, ada juga rombongan yang datang dari pulau Bawean. Semua datang dengan niatan sama; ingin bisa shalat khusuk.

Meski sedianya pelatihan baru dimulai mulai pukul 07.00, tapi kumpulan jamaah itu sudah berada di masjid jauh lebih pagi dari itu. Muhammad Ridwan misalnya. Lelaki asal Nganjuk itu rela berangkat sebelum subuh. Dirinya berangkat pukul tiga pagi, berboncengan sepeda motor dengan kakaknya. Sementara Nur Qomariyah, ibu dua anak asal Banyuwangi ini sudah datang malam hari sebelumnya. “Saya datang sekeluarga. Kami menginap lebih dulu di rumah paman di daerah Ketintang,” ujarnya.

Mengawali materi pelatihan, Ustadz Abu terlebih dulu menjelaskan mengenai pengertian khusyu’ yang sebenarnya. Dia pun meyakinkan, bahwa merasakan shalat khusyu’ bukanlah hal yang tidak mungkin untuk diraih. “Sejak kita mulai belajar shalat di masa kecil, kita tak diajarkan bagaimana meraih rasa khusyu’. Sebab sang guru telah menetapkan itu sebagai hal yang tidak mungkin. Kita hanya disuruh menghafal bacaan dan gerakan-gerakan rakaat tanpa ruh,” sesalnya.

Pagi itu, Abu Sangkan tidak mengajak jamaah untuk menciptakan rasa khusyu’, tetapi memasuki dan menerima rasa khusyu’ tersebut. “Kita hanya mendapatkan, bukan menciptakan rasa khusyu’,” tandasnya. “Seperti kita sedang kasmaran terhadap seorang kekasih. Kita tak pernah menciptakan rasa cinta, tetapi kita hanya menerima keadaan cinta. Suasana itu tak mudah dilepaskan karena ia timbul dari dalam batin kita sendiri,” tambahnya.

Menurut Abu Sangkan, ketidakmampuan mendapatkan rasa khusyu’, juga sering dikaitkan dengan persoalan dosa. Tapi Abu Sangkan menegaskan, bahwa dirinya tak akan memasukkan wilayah rahasia Allah mengenai dosa ini dalam pelatihannya. “Yang akan kita bahas adalah sebuah teknik. Baik secara psikologis maupun fisiologis yang berkaitan dengan mental sikap yang tepat dengan menggunakan metode-metode yang diajarkan dan diterapkan nabi semasa hidupnya,” ujarnya.

Teknik yang disajikan, terang Ustadz Abu, akan mengeksplorasi harmoni dan keseimbangan antara dua hal yang berlawanan; jasmani dan rohani, otak kiri dan otak kanan, atau energi positif dan energi negatif.

Sepintas, apa yang dilakukan Abu Sangkan, mirip dengan pelatihan inner yang dilakukan anak teater. Latihan tersebut, dibutuhkan para seniman teater untuk menggali dan mengembangkan kepekaan intuisinya. Tapi yang ingin diajarkan Abu Sangkan bukanlah untuk bermain teater, tapi mencapai shalat khusuk.

Para jamaah diajak untuk berdiri. Mendongakkan kepala dengan posisi tangan di atas. Membayangkan dirinya seperti akan tenggelam di lautan yang luas dan dalam. Hanya kepalanya yang berada di permukaan. “Dalam keadaan menjelang sakaratul maut sedemikian ini, siapa yang akan Anda mintai pertolongan,” tanya Abu Sangkan kepada jamaah. “Allah,” jawab jamaah serentak. “Maka berteriaklah minta tolong kepada Allah. Sebab hanya Allahlah yang mampu menolong kita yang sedang sekarat di tengah lautan,” seru Abu Sangkan.

Seketika itu, terdengarlah teriakan histeris jamaah. Ada yang menangis. Tak sedikit yang pingsan. Jeritan ribuan umat muslim di hari Minggu itu, tak ubahnya raungan suara minta tolong para korban gempa Tsunami Aceh beberapa waktu silam. Suara mereka mengiris. “Perasaan dekat dan butuh Allah semacam inilah yang harus Anda pertahankan ketika melakukan shalat,” tukasnya.

Shalat khusyu’, jelasnya, merupakan aktivitas jiwa (soul). Sebab shalat adalah perjalanan spiritual yang dapat menjerinihkan jiwa dan mengangkat peshalat mencapai taraf kesadaran yang lebih tinggi dan pengalaman puncak. “Seperti halnya meditasi, pelaku selalu membutuhkan objek dalam mengarahkan pikiran atau jiwanya. Dan Islam menempatkan Dzat Maha Mutlak sebagai puncak tujuan rohani, sandaran jiwa, sumber hidup, sumber kekuatan dan sumber inspirasi,” tandasnya.

Meski demikian, di antara jamaah itu ada pula yang hanya celingak-celinguk, karena bingung melihat jamaah di kanan, kiri, depan dan belakangnya meluapkan rasa mengharu biru dengan teriakan-teriakan yang menyayat. Sementara dirinya tak mampu menumpahkan rasa yang dipendamnya. “Untuk bisa merasakan, kita harus mengaktifkan kinerja otak kanan sebagai alat kesadaran spiritual, bukan otak kiri. Khusyu’ tidaklah sama dengan berkonsentrasi. Shalat khusyu’ tidak bisa kita raih dengan berpikir, tapi merasakan kehadiran Allah di hadapan kita. Itulah arti ihsan,” tukasnya.

Untuk bisa khusyu’, jelas Ustadz Abu, kita harus memakai otak kiri dan kanan secara sadar dan efektif. “Dalam shalat, otak kiri berkaitan dengan syariat shalat seperti hitungan rakaat, bacaan dan berurutan (tertib). Sementara otak kanan untuk merasakan kehadiran Allah,” ujarnya.

Untuk itulah, kata Usatdz Abu, dalam shalat diperlukan niat. Sebab niat merupakan kesadaran untuk mempersatukan kegiatan otak kiri dan otak kanan, sehingga menghasilkan rasa sambung (tuning) dalam shalat maupun ibadah lainnya. “Niat bukanlah sebuah bacaan atau mantra, tetapi suatu perbuatan yang di dalamnya terdapat kesadaran penuh yang mengalir,” paparnya.

Walau demikian, dirinya mengingatkan, bahwa aktivitas shalat sangatlah berbeda dengan gerakan olah raga. Karena shalat sepenuhnya bersifat terapi, baik fisik maupun jiwa., maka gerakan tubuh pada saat shalat tidak dilakukan dengan hentakan atau gerakan keras seperti halnya orang olah raga senam dalam peregangan otot. “Gerakan shalat dilakukan dengan rileks dan pengendoran tubuh alamiah, seperti gerakan orang ngulet saat bangun tidur,” jelasnya.

Dia pun menegaskan, bahwa jumlah bacaan dalam setiap gerakan shalat bukanlah sebagai ukuran waktu selesainya sikap berdiri, duduk, rukuk maupun sujud. “Bacaan itu bukanlah sebuah aba-aba dalam shalat kita,” tukasnya singkat. Setiap bacaan yang diulang-ulang, paparnya, merupakan aspek meditasi, autoterapi, autosugesti, berdoa, mencari inspirasi, penyembuhan, menunggu intuisi atau petunjuk, bahkan untuk menemukan sebuah ketenangan yang dalam. “Maka bisa jadi lamanya berdiri mencapai lima menit, duduknya lima menit, sujudnya sepuluh menit, sehingga lamanya shalat bisa mencapai lebih dari setengah jam,” katanya. Dedy

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: