jump to navigation

Meraih Untung Lewat Sedekah 15 Jan 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Artikel.
Tags:
trackback

“Ketika hutang tiada jua terbayar. Di saat piutang tak kunjung tertagih. Bilamana penyakit kerap menghantui kehidupan. Di kala jodoh tak kuasa menghampiri. Sewaktu kehidupan dirajam ketakutan dan ketidaktenangan. Dan ketika satu dua masalah terhidang di depan mata, maka bersedekahlah,” tukas Ustadz Yusuf Mansyur di hadapan ribuan jamaah yang memadati gedung DBL Arena (Graha Pena) Jawa Pos, 1 November lalu.

Dai muda kelahiran Betawi, 19 Desember 1976 itu mengaku yakin benar, bahwa bersedekah adalah kunci utama untuk menjadi kaya dan sukses. “Banyak kejadian yang membuktikan itu. Dengan bersedekah, utang menjadi lunas, miskin menjadi kaya, susah menjadi senang, masalah mendapat solusi,” ujar penulis seri buku Wisata Hati itu penuh semangat.

Seperti biasanya, penggagas Program Pembibitan Penghafal Al Qur’an (PPPA) itu, selalu menyuguhkan kisah-kisah tentang keajaban bersedekah. Semisal kisah hidupnya. Dulu, ceritanya, saat menggeluti bisnis informatika di tahun 1996, dirinya dililit banyak hutang dengan jumlah miliaran rupiah. Karena tak kuasa melunasi beban hutangnya, dia harus merasakan dinginnya hotel prodeo selama 2 bulan.

Setelah menghirup udara kebebasan, ayah tiga anak itu kembali merintis usaha bisnisnya. Sayangnya, dirinya tak tahu bagaimana cara mengemudikan roda kehidupannya dengan benar. Lulusan terbaik Madrasah Aliyah Negeri 1 Grogol, Jakarta Barat, tahun 1992 itu pun kembali gagal dan terlilit banyak hutang. Maka untuk yang kedua kalinya, anak pasangan Abdurrahman Mimbar dan Humrif’ah itu harus kembali masuk bui pada tahun 1998.

Saat di penjara itulah, suami Siti Maemunah ini memunguti pengalaman demi pengalaman yang menimpa hidupnya. Dia urai problematika kehidupannya untuk mencari benang kusut yang kerap menyerimpungnya. “Ternyata saya tak pandai bersyukur dan sedikit sekali mengeluarkan sedekah,” simpulnya.

Selepas dari penjara, dia memilih berjualan es di terminal Kali Deres dan menerapkan konsep sedekah. Bisnis Ustadz Yusuf Mansyur akhirnya berkembang. “Saya tak lagi berjualan dengan termos, tapi memakai gerobak,” tuturnya mengenang. Usahanya pun berkembang pesat dan mulai memiliki anak buah. “Ternyata, untuk mengiringi langkah pencarian kekayaan itulah manusia perlu diingatkan dan diberikan pengarahan yang jelas. Tujuannya, bagaimana bisa menjadi kaya tanpa harus memiskinkan hati. Apalagi bila memiskinkan orang lain,” tegas Yusuf Mansyur.

Selain bertutur tentang pengalaman hidupnya, pria yang telah meluncurkan kaset Tausiah Kun Faya Kun, The Power of Giving dan Keluarga itu, juga menceritakan beberapa kisah tentang keajaiban bersedekah yang telah dialami orang lain.

Ketika itu, tuturnya mengisahkan, seorang lelaki bernama Mubalighun tengah ditimpa masalah berat. Hutangnya banyak. Hidupnya dalam buruan debt collector. Karena itu, istrinya tak tahan dan minta cerai. Sehari sebelum eksekusi penyitaan rumahnya, Muballighun berdiam mengurung diri dalam bekapan dingin malam. “Dunia serasa kiamat baginya. Rumah akan disita. Istrinya tengah menunggu dirinya di Pengadilan Agama. Anak sulungnya pun akan segera dikeluarkan dari sekolah karena menunggak SPP terlalu lama,” terangnya.

Stres memikirkan nasibnya, hampir saja lelaki itu melakukan bunuh diri. “Syukurlah dia sadar dan teringat uang simpanannya sebesar Rp. 300 ribu,” ujarnya. Malam itu juga, katanya, Muballighun menyedekahkan uang tersebut kepada fakir miskin. “Keesokan harinya dia mendapatkan rezeki besar yang tak disangka-sangka. Sehingga rumah tetap dimiliki, istri tak jadi menuntut cerai, dan anak sulungnya bisa tetap bersekolah,” tuturnya.

Ada juga cerita menarik tentang seorang siswi SMU di Makassar yang tengah menghadapi ujian, sementara ibundanya sedang sakit keras. Siswi itu berdoa dan berniat menyedekahkan seluruh uang di dalam celengannya. Doanya hanya satu; ia rela tidak lulus ujian asal ibunya sembuh. “Alhasil, ibu siswi itu disembuhkan dari sakit dan dia pun lulus ujian,” ucapnya terharu.

Baginya, kisah ini sungguh istimewa. “Anak itu hanya punya satu kali permohonan dan harus memilih di antara dua pilihan sulit,” tukasnya. “Kalau kita sedekahnya sekali, permohonannya banyak banget,” selorohnya disambut riuh tawa ribuan jamaah.

Ukuran ideal dalam bersedekah itu, terangnya, minimal 2,5 persen. Tapi baginya, yang lebih afdhol, adalah menyedekahkan 10 persen dari harta yang kita miliki. “Orang kita sering tidak adil. Minta disembuhkan dari penyakit jantung yang dideritanya selama bertahun-tahun, yang jika dioperasi membutuhkan dana puluhan juta rupiah, kita hanya mengeluarkan sedekah Rp 100 ribu,” ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Berbagi atau sedekah, adalah tema sentral dakwah Ustadz Yusuf Mansyur. Dia berharap, di hari-hari mendatang, akan lebih banyak lagi jamaah yang gemar bersedekah. “Jika ada jamaah bersedekah, artinya itu merupakan sedekah kita juga,” tandasnya.

Akibat kesimpulannya menjadikan sedekah sebagai solusi atas beragam persoalan yang menimpa seseorang, dirinya acap dianggap ngawur oleh banyak orang. “Banyak yang protes. Masak orang susah kok malah disuruh bersedekah. Tapi gimana lagi, memang itu jawabannya kok,” kilahnya. “Dulu saya kerap menangis karena kesusahan. Setelah ditemukan jawabannya, ternyata sedekah. Dan, saya ingin jamaah merasakan apa yang dirasakan pelaku sedekah,” harapnya.

Berdakwah dengan hanya mengusung satu pilihan tema seperti yang telah dilakukan Yusuf Mansyur, memang membutuhkan kreativitas yang tinggi. Guna membantu kelancaran dakwahnya, dirinya bekerja secara tim. Mereka telah menargetkan berdirinya 300 sentra dakwah yang akan membentang di sepanjang wilayah Indonesia.

Harapannya, sentra dakwah tersebut bisa menjadi roda penggerak ekonomi masyarakat sekitar. “Jika dalam forum pengajian banyak orang yang menghadiri, maka akan banyak jamaah bisa buka usaha dengan menjual produk,” ujarnya. Sentra dakwah, lanjutnya menjelaskan, nantinya bisa dijadikan sebagai pusat gerai sehingga menghasilkan nilai tambah. “Begitulah, jika kita mengurusi jalan Allah, maka akan diberi jalan pula oleh Allah,” tandasnya meyakinkan.

Saat ini, Ustadz Yusuf Mansyur mililih untuk istirahat total dari dunia pertelevisian nasional. “Saya ingin konsentrasi di pesantren, serta di lembaga gerakan-gerakan dakwah dan sayap-sayapnya, seperti MDN, Wisata Hati, PPPA, Daarul Qur’an, usaha jasa travel dan jasa usaha berbasis pesantren lainnya,” paparnya.

Sementara dakwah-dakwah yang sifatnya public service, Ustadz Yusuf Mansyur akan menggunakan media DVD, website, TV-TV lokal dan simpul-simpul MDN yang tersebar di nusantara. Dengan cara demikian, masyarakat bisa lebih mudah mengakses tausiyah Ustadz Yusuf Mansyur. “Tidak usah bertemu. Semua detil langkah panduan efektif dalam bersedekah, dapat diperoleh lewat modul atau DVD yang bisa dilihat di tiap sentra,” katanya. “Untuk itu saya berpesan kepada seluruh kawan-kawan simpul MDN, agar benar-benar mengelola majelis dhuhanya,” pesannya.

Comments»

1. manikarum - 17 Jan 2010

sedekah itu nikmat…sy punya pengalaman nggak langsung dengan ust yusuf mansur link

decazuha - 23 Jan 2010

Sedekah, memang penuh rahasia hikmah. Thanks

2. F4iz - 17 Jan 2010

Subhanallah. Indahnya…

3. MASKUR - 16 Oct 2010

SEDEKAHLAH KARENA ALLAH

4. rere - 2 Feb 2011

subhanallah…sedekah bukan saja hy menjadi kaya secara lahiriah tp batiniah pun ikut kaya (red:pengalaman pribadi)

5. suzukibagus - 28 Oct 2012

subhanallah, semoga kita menjadi orang yang dicukupkan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: